Lagi, iya lagi lagi aku menelan pahit.
Kalau aku boleh berkata jujur yang sesungguhnya. aku tak sanggup menahan sasak di dadaku. Dua bola mataku pun tak sanggup untuk menahan perih ini lebih lama lagi. Tak terbendung derai air mataku saat aku telah yakin, kamu benar-benar tak ada di sisiku, di hari yang aku anggap spesial dalam hidupku.
Namun aku terlalu naif apabila bersedih. Pun aku tak mengerti dan tak tahu pasti jika aku menangis, untuk apa tangisan ini? Untukmu yg mengabaikanku dengan semua alibimu yg menganggap seolah hal yang kulakukan tidak lebih penting dari apa yg kamu lakukan? Atau justru ini tangisan haru untuk mereka, sabahatku yg rela mendatangiku, menyempatkan waktunya untukku, meninggalkan sejenak kesibukannya hanya untuk membuat memori indah bersamaku di momen yg telah kutunggu selama 3 tahun?
"Mmm haha" mungkin tawa singkat dengan senyum sinis pantas untuk mengejek diriku sendiri. Bodoh.. Aku terlalu menggantungkan asa dan berharap sempurna. Mitos kamu hadir di sini, dengan sebuah kejutan yg telah kamu rencanakan. Tak lupa kerlingan indah matamu, senyum manis yang tergurat dari bibir tipismu serta suara renyah yang selalu mengisi gendang telingaku sambil kamu berlari menghampiriku dengan bucket bunga yang khusus kamu siapkan untukku.
Tapi naas nasibku, semua asaku hanya berakhir dengan kepulan asap hitam. Tak bisa kuraih hanya bisa ku pandang, iya itu adalah asa kepedihan.
Tidak, aku tak menyalahkanmu! Iya aku tak menyalahkanmu. Aku hanya sesali diriku yg terlalu naif membuat asa yang bertentangan dari realita dan justru membuatku terhempas dan jatuh terpelosok lebih dalam dalam jurang kepedihan. Dan ketiadaanmu menggerus perasaanku, menyobek-nyobek hatiku.
Perih ini masih dapat ku tahan. Aku yakin ketika waktumu senggang diantara kesibukan yang membuaimu, kamu kan katakan hal yang kuharapkan dan kamu bersikap sebagaimana mestinya. Saat hal itu terjadi, semua lukaku akan hilang seketika. Aku menunggu....
Apakah ini mimpi buruk? Belumlah pulih lukaku. Mengapa kamu dengan tega menyiram luka mengangaku dengan air garam?
Mengapa kamu terlalu enggan hanya untuk mengatakan "selamat sayang"? Mengapa langkahmu amat berat untuk datang menghampiriku saat kamu sejanak terbebas dari kesibukanmu.
Aku sudah terlalu merelakan diriku untuk kamu kecawakan lagi dan lagi. Sudah.. Aku memaklumi semua aktivitasmu yang menggadaikan kasih sayangku.
Kamu mungkin takkan pernah tahu betapa perih yang kurasa. Karena memang mungkin disini hanyalah aku yang mencinta. Hanya aku yang berusaha agar hubungan ini terus tercipta. Sedang kamu perlahan menghancurkan apa yang telah kita bina.
Aku takkan pernah mau untuk mendengar jika kamu sudah tak mencintaiku.
Bodoh. Iya aku bodoh aku mencoba menutupi kepedihan dan realita miris dengan terus berkata semua baik baik saja. Terus berprasangka baik dibalik kekecewaan yang terlalu sering kualami.
Pernah suatu waktu ku coba untuk mengatakan padamu dengan lantang "aku kecewa" namun semua itu hanya tertahan dibibirku.
Sebuah kata kasar saat aku bergumam adalah "Harusnya kamu berterima kasih padaku" semua hal yang kamu lakukan yang menjadi sebab sakitnya aku, aku masih bertahan. Bukan, bukan karena aku mengabaikan realita, bukan karena aku tak peka jika kamu sudah tak lagi mencinta tetapi aku hanya ingin berbaik sangka karena aku mencintaimu—