Rabu, 18 Oktober 2017

Aku Tak Ingin Melewatkanmu

Entah sudah berapa jam yang sudah kita habiskan bersama. Aku hanya ingat kita memutuskan melipir di kedai kopi ini saat langit sore masih cerah, saat aku belum bertemu senja dan sebelum lampu-lampu temaram menyala.

Aku selalu saja jatuh cinta oleh lampu-lampu temaram berwarna kuning keorange-an. Mereka menyajikan kehangatan, membalut keakraban dengan orang-orang yang sibuk bertukar cerita pada sesamanya.

Kita berdua menelusuri tangga, aku membuntutimu dari belakang. Di sudut ruang itulah kita memulai bercerita. Tidak lupa segelas Ice Chocolate dan kopi Americano dengan gula cair yang kau abaikan melengkapi percakapan kita.

Disela-sela percakapan kita, di antara senda-gurau dan dalam hangatnya gelak tawa. Aku selalu saja diam-diam menyempatkan diri tuk memandangimu lekat-lekat, tentunya tanpa kau sadari, tanpa sepengetahuanmu. Dalam kesempatan lain sesekali aku beranikan diri dengan sengaja memandangimu lagi, kemudian kau hanya tersenyum, begitulah kau aku buat tersimpu malu. Dan lagi-lagi aku selalu suka ekspresi itu. Tolong sadarkan aku apakah kamu yang dihadapanku nyata atau sekedar fantasiku semata?

Aku gagal dalam usaha bersikap biasa, tidak bisa menahan diriku tuk tidak melihat ke arahmu, sekalipun tak ingin melewatkanmu. Aku tahu itu ilegal namun hanya dengan cara tersebut aku dapat merasa tenang. Aku tak punya upaya lain, selain memenuhi pikiranku dengan detail dirimu, sebab aku tak pernah tahu esok kau akan masih di sini atau dengannya yang tak pernah ku tahui sebelumnya.

Jumat, 02 Desember 2016

Rindu

Rindu terlalu lancang
Tak pernah punya belas kasihan
Egois! Ingin segera dipertemukan
Tapi waktu tak pernah mengijinkan
Membiarkan diriku gelisah dalam ketidakpastian
Lantas haruskah aku diam dalam kesakitan?
Atau mati dalam rindu yang tak tertahankan?

Sabtu, 20 Agustus 2016

Takkan Ada Besok

Aku putuskan tidak akan ada lagi “besok” antara kamu dan aku. Orang awam pun tahu ini tak semudah kelihatannya, menjalaninya,  apalagi secara konsisten dan kemudian menjadi lupa pada klise kelam antara kita. Aku harap segera dapat merubah kita menjadi masing-masing. Kamu adalah kamu dan aku adalah aku, bukan kita (lagi). Dan kembali lagi semua takkan semudah itu layakanya mengubah pertemanan kita menjadi sepasang kekasih.

Cinta itu keseimbangan antara lisan dan aksi. Apa yang telah dikatakan harusnya berbading lurus dengan realitas. Kata-kata harusnya diimplementasikan pada kehidupan nyata, bukan sebagai omong kosong, tameng disaat terdesak atau sebuah monolog belaka. aku merasakan kasih tapi aku takkan lupa dengan logikaku lagi. 

Sabtu, 09 April 2016

Mati di Pangkuan Cinta (Ara)

Ara, sebut saja begitu. 
Ara tak merisaukan ganjil atau genap
Karena Ara terlanjur kuat tuk berdiri sendiri. 
Perjuangan terbesar adalah untuk bangkit setelah jatuh tanpa ada yang dapat memberikan pundak atau uluran hangat tanpa syarat.
Ara yang pernah jatuh tersungkur di bawah nama cinta
Tersesat oleh perasaan yang tak sengaja tertanam, dibiarkan tumbuh, lalu ditinggalkan. 
Ara sendiri dalam kekeringan dan berantakan. 
Ara pernah mati dipangkuan cinta dan pengkhiantan yang membelainya. 

Lia