Senin, 30 September 2013

Satu harapan dari banyak harapan

a hope
Bermain dengan rasa, mengalunkan melodi yang menggetarkan jiwa. Jari-jari kiriku memainkan nada dan tangan kananku mengalun keatas dan kebawah.
mataku terpaku dengan deretan-deretan nada dengan ritme di atas standbook. Kakiku mengikuti tempo ketukan dari suara yang dihasilkan sang pemain.
i miss it so badbly. in my imajination i wish i can be a vionist, tetapi aku terlalu tinggi semua tak sealistis kenyataannya, aku gagal, aku tak sanggup bertahan, aku tak bisa memaikan itu dengan baik.
aku tak ingin kamu menjadi barang yang usang begitu saja, aku ingin kamu temani aku dalam kesepianku ini.
aku rindu..... bermain denganmu

Addicted Novel

Kenapa ya cerita dalam novel itu dikemas sangat indah? Yap, cerita romantisme. Sekian banyak novel yang aku baca walau di awal nggak menonjolkan kisah percintaan dua sejoli dan di tekankan pada akhir cerita itu semua so romantic. Sekali lagi kenapa cerita cinta yang indah, nggak mainsteam hanya ada dalam novel-novel? kenapa juga nggak ada dalam cerita hidupku? yakali haha 
Kadang kali, aku berimajinasi perihal bagaimana ya kisahku nanti. Menyakitkan sekali hal itu cerita novel dan cerita hidupku itu sangat kontradiksi, itu faktanya.
 
Rasanya aku pengen borong novel-novel setiap kali aku ketoko buku, aku emang nggak niat beli novel tapi melewati tumpukan novel-novel itu butuh usaha yang besar, kakiku seakan dilingkari bola besi, dan novel-novel itu seakan-akan memanggilku "ayooo...kesini bacalah aku, aku punya cerita yang akan membawamu kedalam dimensi lain", akhirnya yang terjadi adalah perang batin. aaaaaa uang sakuku nggak cukup buat beli itu...besok mau makan apa tapi novelnya buat penasaran -_- Orangtuaku juga curiga kalo aku bilang minta uang buat beli buku, dikira buat beli novel. -_-
Di toko buku online pun sudah banyak my wish list buku yang ingin aku beli, tapi sekali lagi finansialku memprihatinkan, dan my wish list hanya tinggal cerita. ini buku-buku yang mau aku beli


Coretan dinding

Perkuliahan sudah dimulai hampir 1 bulan jadi aku nggak bisa banyak ngeluangin waktu aku untuk nulis, corat-coret di sini tapi sebenernya setumpuk kisah-kisah udah aku rekam di otakku dan ingin segera menjadikannya cerita hehehe
Oh iya minat aku membaca novel makin menjadi-jadi... aaaaaa setiap kali membacanya aku selalu dibawa masuk kedalam atmosfer yang berbeda sampai-sampai mewek aaah dasar si melankolis, ya aku, yang suka dramatisir keadaan,.


Minggu, 01 September 2013

Experience in the Mabim Vokasi UI 2013


Aku bercerita dengan caraku sendiri. Terkadang aku tak mampu mengatakannya dangan suara dan hanya dapat mengungkapkannya dalam rangkaian-rangkaian kata. Ya itulah, aku. Tidak semua yang kutulis itu adalah diriku, yang kutulis adalah mereka, bagaimana mereka membuatku berarti ataukah sebaliknya. Mereka adalah sejarah.
Iya, aku bercerita tidak secara langsung tetapi bukan sebuah kamuflase belaka, melalui tulisan dengan kata-kata yang indah aku membawamu, ya sang pembaca terhanyut dan membuatmu mengartikan sendiri perihal maksudku.
Namun untuk  kali ini aku akan bercerita tentang kisahku secara gamblang dan apa adanya.
Beberapa hari yang lalu adalah hari H acara Mabim Vokasi Universitas indonesia, ya aku menjadi salah satu mentor yang tergabung di dalamnya. Sebelum acara tersebut aku ikut oprec dan aku begitu excited. Rapat demi rapat kujalani walaupun Cikarang-Depok harus kulalui. Berjibaku dengan panasnya trik matahari, desakan dalam bis tapi semua kulakukan ya sekali lagi karena aku sudah berkomitmen. Ya aku manusia biasa disela-sela itu pasti ada batas jenuh yang hadapi, rasa malas, mager, selalu menerjangku untuk merobohkan komitmenku berkat niat serta dorongan dari teman-teman aku bisa lalui semua sampai akhir dan that is best experience and the best impression.
Banyak hal yang bisa kupetik dari Acara ini. Kedekatan antar teman, partner, lebih mengenal, dan pastinya aku bisa bertemu dengan maba-mabaku yang kece-kece.  Aku bahagia bisa menjadi mentor mereka, mereka sopan, baik. Aku seperti berkawan dengan maba-mabaku namun tetap dalam garis-garis kesopanan yang ada. Aku menangani 23 anak bersama partnerku, semula itu terlalu berat bagi ku namun setalah mengenal mereka di pra mabim, tertepiskan rasa takut itu. Mereka manis, baik, aku merasa nyaman menganyominya dan itu tidak ku dapat di tahun sebelumnya ketika ku maba.
Selalu ada yang dapat dipetik dari sebuah pengalaman.