Aku menjejakkan kaki disebuah atsmosfer
baru dengan sebuah asa yang ku selipkan satu dari beberapa tujuan
hidupku. Asa itu berupa sesuatu gaya tarik menarik bukan saja dari satu
pihak melainkan dua pihak yang menimbulkan rasa keingin tahuan lebih dalam terhadap
sesuatu yang aku sebut itu cinta, tepatnya saling mencinta.
Deru langkah kakiku yang tergesah-gesah
terdengar menggema di lorong kampusku, tak akan ada yang mampu menghentikanku
sampai sesuatu membuatku beberapa saat terdiam dan menoleh ketika seseorang
dengan tampang polos tanpa dosa memanggilku "eh" sahutnya. Kesal yang
kurasa namun kesal itu bermetamorfosis menjadi sesuatu yang sulit di ungkapkan,
bagaimana tidak dia adalah pria yang aku idamkan, si penyita waktu dan tak pernah
absen dari mimpiku. Sekarang lihatlah di hadapanku ada sesosok pria yang tinggi
dilapisi kulit yang berwarna putih kecolatan, postur tubuh yang ideal, kedua
bola mata indah yang di hiasi dengan frame dan lensa yang di gantungkan di
antara hidung dan mata.
Aku yang saat itu masih meraba-raba apakah
ini nyata atau khayalanku semata diberikan kesimpulan bahwa ini adalah nyata
dengan suara merdunya yang memanggilku "lo farah kan?" tanyanya? aku
menjawab "iya". Dan hari itu adalah perkenalan kami di dunia nyata,
karena kami mahasiswa baru yang sebelumya hanya kenal di dunia yang nggak real,
palsu, besifat maya.
Singkat cerita hubungan kami menjadi lebih
dekat, curhat, sms untuk sekedar iseng-isengan. Rasaku yang sudah tertanam
bahkan sebelum kami mengenal dekat ya bisa dibilang love for first sign menjadi semakin berakar. Mulai saat itu dalam
benakku hanya kamu, selalu kamu, kamu yang menjadi prioritasku.
Selama berbulan-bulan aku hanya menjadi
perindumu bahkan mungkin satu dari sekian banyak perindumu. Bahasa tubuhku
memang tak cukup mampu menterjemahkan apa yang aku rasakan terhadapmu. Selama
waktu bergulir aku hanya merindumu dalam diam, mencintaimu tanpa kata,
mengatakan cinta tanpa suara.
Suatu hari kamu bercerita padaku seperti
biasa, kali ini hal yang serius yang ini uangkapkan. Dalam ceritanya aku
menemukan sosok yang bagiku tak asing lagi dan sosok itu persis sama denganku
walau pada saat itu ada rumor yang mengatkan ia menyukai wanita lain bukan aku
tapi hal itu aku tepis karena rasa kegeeranku lebih besar. Tapi sungguh apa
yang tuturkan padaku kali itu mengarah padaku. Aku hanya dapat tersenyum dan
apakah ini suatu pertanda ia merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasa.
Apakah ini suatu wujud ungkapan hatinya padaku tanpa harus berkata secara
langsung?
Waktu terus bergulir rasa itu semakin
besar dan rongga di hatiku tak mampu lagi menampung seluruh rasa yang hanya
untuk dirimu. Aku melambung tinggi dengan perasaan pede dan terlalu cepat
menyimpulkan sebuah perasaan mendapat sebuah kejutan yang selama ini aku tepis.
Sore itu adalah momen, keadaan dimana
membuatku serba salah entah sengaja Tuhan perlihatkan langsung di hadapanku
karena aku teman baiknya atau karena aku yang dulu terlalu kepedean, aku tak
tahu apa yang harus aku lakukan. Hatiku robek, hanya dalam beberapa detik
hancur begitu saja memusnahkan perasaan yang indah yang terajut berbulan-bulan.
Bola mataku terbelalak, kakiku tak tak dapat bergerak, dihadapanku dia pria si
penyita waktuku sedang mengingkrarkan janji cinta dengan wanita yang kutepis
saat itu. Inikah jawaban atas semuanya? Aku menyesal mengapa betapa cepatnya
saat itu aku membuat kesimpulan bahwa yang ia ceritakan adalah aku. Salahku tak
pernah bertanya siapa wanita itu (wanita yang kamu cinta), padamu sebelumnya.
Amalia