Minggu, 04 Agustus 2013

Si Penyita Waktu


Aku menjejakkan kaki disebuah atsmosfer baru dengan sebuah asa yang ku selipkan satu dari beberapa tujuan hidupku.  Asa itu berupa sesuatu gaya tarik menarik bukan saja dari satu pihak melainkan dua pihak yang menimbulkan rasa keingin tahuan lebih dalam terhadap sesuatu yang aku sebut itu cinta, tepatnya saling mencinta.
Deru langkah kakiku yang tergesah-gesah terdengar menggema di lorong kampusku, tak akan ada yang mampu menghentikanku sampai sesuatu membuatku beberapa saat terdiam dan menoleh ketika seseorang dengan tampang polos tanpa dosa memanggilku "eh" sahutnya. Kesal yang kurasa namun kesal itu bermetamorfosis menjadi sesuatu yang sulit di ungkapkan, bagaimana tidak dia adalah pria yang aku idamkan, si penyita waktu dan tak pernah absen dari mimpiku. Sekarang lihatlah di hadapanku ada sesosok pria yang tinggi dilapisi kulit yang berwarna putih kecolatan, postur tubuh yang ideal, kedua bola mata indah yang di hiasi dengan frame dan lensa yang di gantungkan di antara hidung dan mata. 
Aku yang saat itu masih meraba-raba apakah ini nyata atau khayalanku semata diberikan kesimpulan bahwa ini adalah nyata dengan suara merdunya yang memanggilku "lo farah kan?" tanyanya? aku menjawab "iya". Dan hari itu adalah perkenalan kami di dunia nyata, karena kami mahasiswa baru yang sebelumya hanya kenal di dunia yang nggak real, palsu, besifat maya.
Singkat cerita hubungan kami menjadi lebih dekat, curhat, sms untuk sekedar iseng-isengan. Rasaku yang sudah tertanam bahkan sebelum kami mengenal dekat ya bisa dibilang love for first sign menjadi semakin berakar. Mulai saat itu dalam benakku hanya kamu, selalu kamu, kamu yang menjadi prioritasku.
Selama berbulan-bulan aku hanya menjadi perindumu bahkan mungkin satu dari sekian banyak perindumu. Bahasa tubuhku memang tak cukup mampu menterjemahkan apa yang aku rasakan terhadapmu. Selama waktu bergulir aku hanya merindumu dalam diam, mencintaimu tanpa kata, mengatakan cinta tanpa suara.
Suatu hari kamu bercerita padaku seperti biasa, kali ini hal yang serius yang ini uangkapkan. Dalam ceritanya aku menemukan sosok yang bagiku tak asing lagi dan sosok itu persis sama denganku walau pada saat itu ada rumor yang mengatkan ia menyukai wanita lain bukan aku tapi hal itu aku tepis karena rasa kegeeranku lebih besar. Tapi sungguh apa yang tuturkan padaku kali itu mengarah padaku. Aku hanya dapat tersenyum dan apakah ini suatu pertanda ia merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasa. Apakah ini suatu wujud ungkapan hatinya padaku tanpa harus berkata secara langsung? 
Waktu terus bergulir rasa itu semakin besar dan rongga di hatiku tak mampu lagi menampung seluruh rasa yang hanya untuk dirimu. Aku melambung tinggi dengan perasaan pede dan terlalu cepat menyimpulkan sebuah perasaan mendapat sebuah kejutan yang selama ini aku tepis.
Sore itu adalah momen, keadaan dimana membuatku serba salah entah sengaja Tuhan perlihatkan langsung di hadapanku karena aku teman baiknya atau karena aku yang dulu terlalu kepedean, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Hatiku robek, hanya dalam beberapa detik hancur begitu saja memusnahkan perasaan yang indah yang terajut berbulan-bulan. Bola mataku terbelalak, kakiku tak tak dapat bergerak, dihadapanku dia pria si penyita waktuku sedang mengingkrarkan janji cinta dengan wanita yang kutepis saat itu. Inikah jawaban atas semuanya? Aku menyesal mengapa betapa cepatnya saat itu aku membuat kesimpulan bahwa yang ia ceritakan adalah aku. Salahku tak pernah bertanya siapa wanita itu (wanita yang kamu cinta), padamu sebelumnya.

Amalia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar