When i see u again and look at his eyes
deepest, aku seakan terbawa hayut kembali pada kisah beberapa tahun silam yang
aku akhiri, aku tinggalkan.
Bartahun-tahun tak jumpa, begitu banyak
momen-momen berharga yang telah aku lalui bersama orang baru dalam kehidupanku
selepas aku lulus dari sekolah menengah atas dan melewatkan momen-momen yang
tak sempat aku rasakan bersama ayah, ibu, adik dan sahabat karibku dan tentunya
tak lupa dia. Aku meninggalkan kota ini, kota dimana aku dilahirkan menjadi
seorang wanita yang menghargai apa itu makna sebuah kasih sayang.
Pagi itu semua waktu berjalan seperti
hari-hari sebelumnya masih tetap 1x 24 jam, setiap detiknya aku biarkan berlalu
begitu saja tak ada yang berarti kecuali aku menajalankan rutinitasku sebagai siswa.
Hariku, aku habiskan dengan belajar untuk persiapan kuliahku dan siap
menjalankan rencana hidup yang sudah terkonsep dalam benakku, tak lupa pula
kodrat sebagai siswa SMA yang normal menjalankan hang out bersama teman-teman.
Hidupku benar-benar normal sampai pada
suatu ketika semua berubah menjadi absurd saat aku mengenal seniorku, Naufal.
Semua orang tahu dia, sikapnya yang ramah, tak pandang bulu membuat daya
tariknya lebih besar dari cowok pada umumnya walau dia salah satu orang
memiliki segalanya serta didukung dengan wajah yang menurut cewek-cewek yang
mabuk kepayang sih tampan, ia dipuja-puja cewek-cewek mulai dari angkatanku
sampe angkatan senior, “gila bener tuh
cowok, kebangetan lebay, serakah punya segalanya!” gerutuku dalam hati.
Sebenernya aku tak habis pikir sama
cewek-cewek yang pake segala macam cara buat dekat dengan
Naufal. Selama aku tahu dia ya walau cuma sekedar tahu sih, sumpah demi apapun Naufal biasa-biasa aja, nggak tampan-tampan amat masalah ramah itu kan biasa memang seharusnya orang berlaku ramah karna salah satu manner sebagai manusia. Ada angin apa aku jadi mikir “sebenernya orang-orang yang terlalu berlebihan apa aku yang nggak normal?” sumpah itu pikiran absurd yang pernah terlintas dalam benakku.
Naufal. Selama aku tahu dia ya walau cuma sekedar tahu sih, sumpah demi apapun Naufal biasa-biasa aja, nggak tampan-tampan amat masalah ramah itu kan biasa memang seharusnya orang berlaku ramah karna salah satu manner sebagai manusia. Ada angin apa aku jadi mikir “sebenernya orang-orang yang terlalu berlebihan apa aku yang nggak normal?” sumpah itu pikiran absurd yang pernah terlintas dalam benakku.
Senin pagi di teras kelasku, aku duduk
sambil membuka halaman demi halaman buku bahasa Indonesia dengan jajaran
kata-kata yang tertulis rapih dari sang penulisnyanya, aku. Dalam keseriusanku
dan keheningannya pagi hari seseorang pria yang tak asing lagi diseantero
sekolah, ya Naufal. Dia menghampiriku
dengan memperlihatkan senyum yang begitu ikhlas dan seraya ia berkata “kamu
Kiki kan, anak kelas XA?”. “Iya, memang kenapa?” seruku. Naufal ternyata salah
satu anggota yang berperan penting dalam club Japania dan sering tampil menjadi
cosplay menyerupai anime-anime. Ia bermaksud meminta tolong padaku untuk sounding dikelasku menyampaikan hal
tersebut dan yang berminat berkumpul di Aula sekolah. Tak lupa pula Naufal
mengajakku dan tanpa memikirka perasaan dia dengan sikap cuekku secara spontan
aku berkata “saya nggak ikut ka, bukan passion
saya”. Setalah bercakap-cakap aku
mengiyakan permintaan tersebut dan Naufal mengumbar senyum terima kasih padaku
seraya berlalu. Selama kira-kira lima belas menit berhadapan langsung dengan
Naufal si trending topic aku nggak merasakan apapun yang orang-orang bilang,
semua berjalan biasa saja kecuali emang dia orang yang ramah. “Pesona Naufal yang orang bilang ternyata
tak mampu membuatku klepek-klepek. hahaha” singat dalam hatiku sambil
tertawa sendiri.
Kringgg-kringg.. dering bel kelas yang
mengganggu pendengaranku membuat seluruh kelas gaduh dan berduyun-duyun keluar
dengan kepentingannya masing-masing. Ada yang sejenak melepaskan stress
dikelas, ada yang membeli jajan di kantin untuk mengisi perut, ada yang bertemu
dengan kekasih di kelas lain. Aaah .. semua sibuk dengan kepentingannya sedangkan
lihatlah aku disini masih di dalam kelas entah mau kemana aku sudah terlanjur
menolak ajakan sahabat-sahabatku yang pergi ke kantin jadilah aku seorang diri
dikalas.
Tidak butuh menunggu waktu lama
desas-desus dikalangan Naufal-Lover yang membawa namaku sebagai bumbu yang
dominan membuat telingaku gatal semua mencuat karena pertemuan kami di pagi itu.
Tapi rumor itu berlalu begitu saja karena tak ada kejalasan dari aku maupun
Naufal, ya jelas saja toh kemarin Naufal hanya memintaku sounding kok. Mungkin para pengagumnya aneh kali ya kalau Naufal
ada apa-apa denganku bagaimana tidak lihat aku dengan Naufal sangat berbeda.
Aku siswi biasa yang hanya berkutat
dengan buku, tidak cantik, pendek dan berat badan di ambang batas normal Oh my god.
Malam tiba, dering ponselku berbunyi
memecah keheningan suasana kamarku. Dari nomor yang tak di kenal dan tebak
siapa yang ada dibalik layar sana, Naufal. Aku tak habis pikir kalau para
Lovers-nya tahu entah apa yang akan terjadi. Ia hanya mengucapkan terima kasih
dan sekedar sms iseng aja, aku hanya menanggapi seadanya. Selang beberapa hari
in the list my friends on Facebook Naufal muncul begitupun ia followku via
Twitter. Naufal, begitu ramahnya kah engkau sampai seperti ini.
Waktu bergulir kami menjadi dekat, sebagai
senior dan junior. Tak ada perasaan apapun. Suatu ketika sebuah keabsud-an
kembali muncul dari balasan atas perhatian yang tak wajar dari Naufal.
Terkadang ia melayang-melayang begitu saja dalam pikiranku tapi aku coba tepis.
Jelas aku sadar mana mungkin dia dan aku akan jadi kita.
Dosis yang berlebihan dari perhatian
Naufal berbentuk pesan mengindikasikan gejala yang lebih untuk sebuah hubungan senior
dan junior. Semua itu semakin intens tatkala ia sms, line, kakaotalk aku dengan
perihal yang isinya sama coba dan menurutku isinya kurang berbobot terlebih
dering ponselku panggilan masukku terbilang sering berbunyi. Semua bagiku hal
adalah hal yang baru. Maklum saja sebelum mengenal Naufal handphone-ku ini tak
sering ku jamah kecuali untuk memberi informasi penting kepada teman, atau
membalas pesan yang aku balas seperlunya. Begitu juga panggilan masuk di
ponselku, aku sudah bisa tebak saat ponselku berbunyi pasti itu dari ayah, atau
ibuku kalaupun bukan mereka pasti orang-orang yang dalam keadaan urgent yang
perlu aku.
Akhirnya pada suatu hari aku menyadari dan
mengakui bahwa Naufal cowok yang sempurna. Ia tampan, ramah, baik dan yang
pasti aku sudah di fall in love cuz him.
Untuk alasan apapun ia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku.
Pada akhirnya kami bersatu, ya kami jadian. He
said that “i love you, please tell me if you love me like i do”. Aku yang
saat itu sudah terbius cintanya langsung menjawab “yes, i love you too”. Kisah cintaku tak bisa ku jelaskan
dengan logika. Ia mencintaiku bukan karena siapa aku, tapi bagaimana aku dapat
mengisi hidupnya dan membuatnya hidup dalam kesehariannya.
Hubungan kami berjalan 3 tahun sampai pada akhirnya kita terpisah. Bukan karena kami tak lagi saling mencinta bukan juga karena kami tak dapat berhubungan jarak jauh tapi karena kami ingin menggapai impian kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar