Untuk apa dahulu kamu gemborkan. Jika kini kamu sendiri yang padamkan. Aku tak pernah meminta hal itu untuk kau lakukan, namun bukan berarti aku enggan menunjukan, yah, rajutan kisah kita. Aku tak memojokkanmu, aku tentu mengerti saat itu kita terbuai oleh rasa bahagia yang mendekap erat kita hingga menghipnotis tuk tunjukan kepada dunia bahwa kita bahagia.
Akan tetapi, nampaknya kau seolah terburu-buru, padahal kita belum membuktikan apapun pada waktu. Terlalu besar energi yang kau keluarkan diawal memulai rajutan, hingga kini kau lelah tertatih, jalanmu terseok-seok dan kau mulai menyerah, perlahan demi perlahan kau coba lepaskan genggamanmu saat kita berjalan beriringan, sedang kita barulah saja memulai. Apakah nanti kau akan biarkan aku berjalan sendirian?
Aku masih mengingat dengan jelas dalam memori ingatanku, saat-saat dimana kau lontarkan pertanyaan-pertanyaan untukku, pertanyaan-pertanyaan yang memang patut dipertanyakan. “Sayang kau malu menunjukan?”, “Kau risih dengan hal yang kulakukan?”
Kau tahu tidak, saat itu terlalu mengejutkan, aku yang sudah cukup lama berkutat dalam kesendirian, butuh waktu tuk menyadarkan apakah aku masih dialam bawah sadar atau kau bersamaku memang dalam subuah kenyataan. Sebab selama ini kau adalah mimpiku yang tak bisa kuraih dikehidupan nyataku. Salahkan jika aku meminta waktu untuk beradaptasi terhadap hal-hal baru dalam rutinitas keseharianku, iya, bersamamu.
Lagi-lagi bukan persoalan enggan, aku hanya ingin hubungan kita mengalir, membiarkan semuanya tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, setahap-demi setahap. Biarlah mereka yang mencari tahu tentang kita, bukan kita memberitahu tentang kita. Jika semua dirasa sudah dewasa, kau dan aku mantap melenggang bersama tuk hadapi jalan terjal yang menanti kita, maka saat itulah waktu yang tepat tuk tunjukan bahwa kini kau dan aku adalah kita, kita adalah satu, satu tujuan tuk mewujudkan semua asa yang kita gantungkan dimasa depan.
Aku tak menghakimi bahwa itu susuatu yang salah, naif jika aku tak mengharapkan itu, justru aku bahagia, sebab tanpa ragu kau mencoba tunjukanku pada semestamu, aku yakin itupun harapanmu terhadapku. Seringkali saat kau melakukan hal konyol yang terlihat alay bahkan seakan-akan membuat iri orang yang melihat kita, tapi hal itu tak jarang pula membuatku selalu menahan senyum tanpa pernah kau ketahui. Kau melengkapi hidupku. Disaat aku yang masih malu-malu, kau tuntunku tuk menjadi berani, saat kamu temukanku dalam keadaan tertutup kau memperbaikiku menjadi pribadi lebih terbuka.
Maafkan aku, yang kala itu selalu membuatmu selalu protes dan mempermasalahkan sikapku, tapi kuharap kini kamu mau mengerti.
Hey... ini aku telah menjadi peribadi yang kamu damba, yang kau eluh-eluhkan kala itu, tak ada keraguan, rasaku semakin tumbuh dan berkembang, aku tunjukkanmu dalam semestaku seperti harap dulu. Namun, naasnya, kau malah abaikanku dan saat yang bersamaan kau kejutkan aku, dengan sikapmu yang hapuskan aku secara tiba-tiba dalam kehidupanmu, sedang kita masih merajut benang sama. Apa kau tak pernah sedikit menelik mereka, meraka yang diam-diam menyaksikan kita? Atau lebih-lebih kau berinisiatif, mencoba menyelami bagaimana perasaanku kini, bagaimana rasanya jadi aku. Kau tahu ini pahit. apa kau sengaja, dengan tega membuatku menjejali apa yang dulu kau rasa?
Bisa saja aku bersikap seolah-olah tak menyadari semua perubahan ini, mencoba berbaik sangka. Tapi aku tak bisa menampik bahwa semua semakin jelas dan nyata. Mengapa, mengapa, mengapa?????
Lantas jika kini aku melontarkan pertanyaan yang sama persis seperti dulu kau tanyakan padaku, salahkah? Apakah aku yang terlalu terlambat? Ataukah aku yang terlalu menghabiskan banyak waktu untuk beradaptasi? Katakan