Silih berganti, itulah siklus kehidupan. Kita tidak bisa memperediksikan kapan tepatnya seseorang yang amat begitu dekat dengan kita diambil oleh-Nya, pergi meninggalkan kita atau dirampas paksa oleh pihak lain yang tak pernah kita duga sebelumnya. Aku yakin, siapapun tak inginkan semua itu, tetapi sayangnya, kita hanyalah seonggok manusia biasa yang kerdil, tak miliki kapasitas, tak punyai otoritas untuk merubah sedikitpun atas apa yang telah Tuhan kehendaki. Tak jarang, banyak dari kita berusaha mengelak dari skenario yang Tuhan telah ditatapkan. Ya namanya juga manusia yang biasa, tahu sendiri gimana sih manusia biasa, selalu salah, sering terkecoh dan tak bisa membedakan mana yang takdir dan mana yang nasib, mana yang bisa diubah mana yang tidak.
Menyerah pada nasib, itu yang umum dijumpai, padahal itu masih bisa diubah dengan berusaha. Sedangkan berusaha sekuat tenaga, mengerahkan seluruh kekuatan pada takdir yang jelas-jelas sudah tertulis dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun.
Manusia selalu sok tahu, pun tak pernah bisa menerima keadaan saat ditinggalkan atau kehilangan sesuatu yang dianggapnya berharga, mereka berdalih bahwa jika hanya diam berpangku tangan saat ditinggalkan atau kehilangan maka kesedihan, kegalauan, kesengsaraan yang menghatui harinya, yang alay mereka mensugesti diri mereka sendiri dengan hal-hal konyol yang terlihat alay dan lebay, seperti “Aku tak bisa hidup tanpamu, “tanpamu langit tak berbintang”, dan lalala lainnya. Atas dasar itulah tak sedikit dari terjerumus dalam lebah kesalahan. Mereka selalu memaksa keadaan yang menurut “versinya” nyaman maka manusia akan mecoba membuat hal itu kekal bersamanya.
Manusia terlalu takut menerima perubahan terlebih dari zona aman. Sok, berusaha menciptakan kebahagiaan dengan melawan takdir-Nya, padahal tanpa disadari Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang lebih indah, lebih baik dari apa yang kita miliki saat ini, ini bukan guyonan, ini bukan bualan, bullshit atau untuk menangkan perasaan semata, tapi ini yang telah Tuhan serukan kepada umat-Nya, percayalah! Tidak ada daun yang jatuh melainkan karena-Nya. Tuhan Maha Mengetahui segalanya.
Langkah awal untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik itu membutuhkan kata “ikhlas” pun karena sesuatu yang lebih baik itu adalah sebuah “misteri” yang hanya Tuhanlah satu-satunya yang mengetahui hal tersebut, banyak dari manusia sulit mengiklaskan sesuatu ataupun hijrah dari zona aman tersebut (pada saat ini mereka rasa), lagi dan lagi alibinya terlalu berisiko untuk mengorbankan zona aman untuk sesuatu yang abu-abu, sesuatu yang belum tentu bisa mendatangkan kebahagiaan dikemudian hari.
Naluri manusia, jika hal yang lebih baik belum ada didepan mata mana mungkin yang dimiliki saat ini dapat direlakan. Nanti saja ketika sudah tergelincir, ketika yang dipertahankannya (memaksa keadaan) tak memberikan kebahagiaan, barulah menyadarinya, dan lagi-lagi dengan improvisasi mereka yang dipoles sedemikian rupa untuk mejauhkan diri merekan judge publik dan membebaskan mereka dari jeratan orang-orang yang sudah memperingatinya sebelum mereka jatuh.
Manusia yang baik itu selalu berlapang atas segala apapun yang terjadi padanya, bukan malah memaksa, menyalahkan Tuhan dengan alasan-alasan lain membuat dirinya seolah-oleh pihak yang paling menderita dan tertindas. Kita hanya butiran debu, bisa jadi saat Tuhan mengambil sesuatu yang berharga yang kita miliki saat ini tidak memberikan kebaikan untuk diri kita dikemudian hari, yakan! c’mon think again.
Mulai sekarang perbaikilah diri, mulai belajar menerima keadaan apapun, ikhlas dan lapang, sesungguhnya sesuatu yang pergi, hilang dari diri kita akan digantikan oleh sesuatu lain yang lebih baik dari apa yang kita miliki saat ini, Allah maha mengetahui segalanya.
Percayalah! “Ketika sesuatu yang lama pergi maka sesuatu yang baru akan datang” Kita hanya perlu sedikit bersabar. “Dan janganlah sekalipun kamu melupakan yang lama, saat sesuatu yang baru itu datang”.
Sabtu, 26 Juli 2014
Silih Berganti (Manusia dan kesoktahuannya)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar