Kamis, 21 November 2013

Unforgettable Moment, LOL Moment

Unforgettable moment mungkin dua kata itu terlalu mainstream dan mungkin juga kedua bocah yang beranjak dewasa itu akan sama persis menuliskan judul tersebut, tapi tidak, karena aku bubuhkan embel-embel yang berbeda diakhirnya.
Dua bocah itu adalah seorang perempuan yang dulu pernah menjadi my haters, dulu. Dan bocah kedua adalah seorang pria, Mr.Lonely yang pernah mempunyai hubungan dengan aku dan Si bocah perempuan itu, lebih tepatnya aku setelah perempuan itu.
Sabtu, aku langkahkah kaki tuk kembali ke Real House, meninggalkan rumah keduaku, dan kamu tahu bagaimana rasanya meninggalkan rumah kedua dengan seabreg tugas? Indah sekali tapi bukan itu hal pentingnya. Niatku pulang tak luput dari perjanjian untuk menemuinya, yah, Si kecil, si cermin diriku, si haters yang kini menjelma menjadi entah dinamakan apa.......

Rabu, 20 November 2013

Belum Ada Judul #RP

Bolehkah waktu kuputar sejenak? Waktu dimana aku belum menopang rasa ini. Bisakah aku mengatur skenario kisahku? Takkan kujadikan dia sebagai pemeran utama didalamnya.  Sungguh. Jika aku bisa. Takkan kubiarkan dia mengobrak-abrik hatiku. Pertemuan singkat. Yang entah  kedekatannya diberi nama apa. Sampai saat ini aku belum memahami sebab semua berbeda.
Dalam perbincangan singkat kita dipesan singkat dan tentu aku yang  memulai percakapan itu. Yah, tentu saja. Mana mungkin kau yang memulai. Kau yang menciptakan perubahan ini.  Tentu saja aku yang bertanya mengapa. Yah, kamu bersikap seolah-olah semua baik-baik saja.  Dengan alasanmu yang memang masuk akal namun tak dapat aku percaya. Aku cukup mengiyakan setiap detail responmu yang tentu belum menjawab tanda tanya besar dalam benakku.
Tuan, andai boleh aku berkomentar, aku belum mampu menerima 

Cinta Kadaluarsa



Menjadi pengagum rahasiamu? Oh.. tidak pernah menginginkan hal itu, sama sekali. Tapi semua terjadi begitu saja, dengan lancang dan tanpa permisi, perlahan namun pasti kamu mampu mengisi kokosongan hatiku, mengobarak-abrik perasaanku, menjadi pemeran utama dilembar-lembar halaman dalam skenario hidupku.  Andai saja jika aku bisa memilih , takkan kubiarkan kamu merasuki sekat-sekat hatiku, saat itu.
Berawal dari sebuah proses pertemanan, jarak dan kerenggang mampu kamu tepiskan diantara kita. Tentu saja dengan supel kamu memulai semua itu. Sampai pada suatu saat kamu suguhkan aku dengan perhatian-perhatian yang tak pernah aku rasakan sebelumnya, kamu tuangkan dalam pesan singkat, entah aku yang terlalu cepat menyimpulkan atau apa. Setiap malam kamu selalu luangkan waktu untukku, itu ritinitas terbaruku, dan aku selalu dapat menebak jam berapa kamu akan meramaikan ponselku. Kusempatkan beberapa menit untuk mereview pecakapan kita dipesan singkat, ah.. itu selalu membuatku tersenyum diam-diam. Kamu hanya sekedar bercerita dan kamu selipkan beberapa perhatian didalamnya, mungkin kamu tak ingin terlalu terburu-buru,

Senin, 18 November 2013

Wanita di Tengah Hujan

Senja Gerimis.....
Detik demi detik jarum jam berputar, perlahan demi perlahan namun  dengan pasti ia mengubah sang waktu. Sore pun menjelang kusiapkan semua keperluan untuk menghadapi ujian. Aku abaikan rasa sakit yang menghujam sebagian kepalaku, rasa gelisah dan takut atas pecahnya pembuluh darah dimataku, meskipun siang itu sang penolong dengan baju putih khasnya dan stetoskop di kantungnya mengatakan itu akan baik-baik saja, aaa.. hanya hembusan panjang nafasku yang dapat mewakilkan betapa leganya diriku.
Jam analog berwarna hitam  keemasan bergaya klasik dengan aksen melodi disisi kanan yang kini menghiasi pergelangan tanganku  telah menunjukan seperemapat dari keseluruhan angka-angka yang terjajar rapi. Biru langit dan putihnya awan seketika sirna berganti menjadi kelabu dengan gemuruh-gemuruh suara yang beradu, yang membuat penghuni bumi resah dan takut.  Itulah penyambutan untuk datangnya sang hujan, sang pembawa

Selasa, 05 November 2013

Kepedulian Menjelma Menjadi Teror


Kamu ulurkan tanganmu begitu saja padaku, dengan guratan senyum yang nempak jelas ditulang rahangmu. Aku yang saat itu heran yang tergambarkan dalam tampang kebodanku, begitu saja menangkap mengulurkan tangannya. Lontaran nama yang terdengar jelas digendang telingaku tetapi belum dapat membuatku mengingat jelas sketsa wajah itu.
Pembicaraan ringan yang kamu suguhkan mampu mencairkan suasana kekakuan diantara kami. Aku mengingatnya, dia salah satu anggota diperkumpulanku dari fakultas yang berbeda. Selang tak beberapa lama setelah kami berkenalan semua sekat-sekat kecanggungan sirna begitu saja diantara kami, sebagai seorang teman. Banyak hal yang selama ini takku ketahui, berkatnya aku menjadi banyak tahu, setidaknya untu saat itu aku senang berteman dengannya. Entah sejak kapan, aku tak mengingat, dering ponselku selalu berdering ramai dengan semua pesan-pesan darinya, untuk beberapa saat ia mendominasi  setalah kebawelan ayahku untuk saat itu.
Setiap kali aku membuka mata saat matahari terbit dari ufuk barat ponselku menampilkan sebuah pesan berisi “Bonjour” dan ketika aku berniat memejamkan mata saat bulan menggantikan sang mentari untuk menyinari dunia, lagi-lagi ponselku berdering yang menampilkan jajaran kata “have a wonderful dream, bonne nuit et doux rĂªves” jelas terpampang dilayar ponselku. Singkat memang psan-pesan itu dan begitu manis jika kedua sejoli saling mengharapkannya, namun tidak denganku. Diawal perkenalan kami, aku selalu membalas dengan ringan namun semakin lama aku merasakan suatu kesan yang

Senin, 04 November 2013

240 Detik Dihadapanmu

Indra penglihatanku masih bisa fungsi dengan baik, ditengah teriknya matahari siang dan lautan orang-orang yang meyibukkan dirinya, ah aku tak tahu pasti, akan tetapi yang pasti siang ini aku disuguhkan oleh  sosok yang  dalam setahun mungkin mataku ini hanya dapat menangkap wujudnya sesekali saja, dapat dihitung dengan jari, sepertinya. Meskipun kami berada dalam satu atap yang sama, dalam enam lantai yang tak begitu luas namun entah mengapa  sepertinya kami berotasi sendiri-sendiri, dan hanya dalam suatu waktu  dari 365 hari dalam satu tahun kami bertemu pada titik yang sama, dan aku maupun dia tak mengetahui waktu tersebut. 
Bertemu pada titik yang sama, dalam waktu yang begitu singkat. Satu detik, dua detik, tiga detik...... aku prediksikan itu sampai 240 detik. Oh my God it’s too short. Sejenak perhatianku tersita akan dirinya, ah lagi dan lagi otakku