Kamu ulurkan
tanganmu begitu saja padaku, dengan guratan senyum yang nempak jelas ditulang
rahangmu. Aku yang saat itu heran yang tergambarkan dalam tampang kebodanku,
begitu saja menangkap mengulurkan tangannya. Lontaran nama yang terdengar jelas
digendang telingaku tetapi belum dapat membuatku mengingat jelas sketsa wajah itu.
Pembicaraan ringan yang kamu suguhkan mampu mencairkan suasana kekakuan
diantara kami. Aku mengingatnya, dia salah satu anggota diperkumpulanku dari
fakultas yang berbeda. Selang tak beberapa lama setelah kami berkenalan semua
sekat-sekat kecanggungan sirna begitu saja diantara kami, sebagai seorang teman.
Banyak hal yang selama ini takku ketahui, berkatnya aku menjadi banyak tahu,
setidaknya untu saat itu aku senang berteman dengannya. Entah sejak kapan, aku
tak mengingat, dering ponselku selalu berdering ramai dengan semua pesan-pesan
darinya, untuk beberapa saat ia mendominasi setalah kebawelan ayahku untuk saat itu.
Setiap kali aku membuka mata saat matahari terbit dari ufuk barat ponselku
menampilkan sebuah pesan berisi “Bonjour”
dan ketika aku berniat memejamkan mata saat bulan menggantikan sang mentari
untuk menyinari dunia, lagi-lagi ponselku berdering yang menampilkan jajaran
kata “have a wonderful dream, bonne nuit
et doux rĂªves” jelas terpampang dilayar ponselku. Singkat memang psan-pesan
itu dan begitu manis jika kedua sejoli saling mengharapkannya, namun tidak
denganku. Diawal perkenalan kami, aku selalu membalas dengan ringan namun semakin
lama aku merasakan suatu kesan yang
tak membuatku tak
nyaman, aku menganggap semua yang ia lalukan sangat tak penting, bodoh dan
konyol, namun sekali lagi aku coba tepis anggapanku saat itu.
Hari demi hari berganti, entah mengapa aku merasa, rasa ketidaknyamananku yang
sempat aku tepis semakin menemui titik yang menjelaskan bahwa aku benar-benar bagaikan
seseorang yang diteror akan sosok itu, sosok yang diawal bagaikan ibu yang
hangat namun 180 derajat berubah menjadi mahluk yang siap menerorku setiap saat.
Lebih tepatnya aku diteror oleh semua pesan-pesan darinya. Aku tak tahu pasti
sejak kapan ia bertransformasi menjadi mahluk yang menyeramkan. Akupun tak
mengerti apa modus yang ia lakukan dari semua itu? Membuat hidupku dihinggapi
rasa ketakutan sepanjang hari? Atau membuatku hidupku lebih berwarna dengan semua
pesan-pesannya? Mungkinkah?
Aku hanya menerka-nerka apakah dia mempunyai rasa padaku yang dituangkan
dalam bentuk perhatian namun sayangnya deretan kata-kata manis yang ia rangkai
tidak dapat membuatku melayang kelangit ketujuh seperti pada semestinya, justru
rasa yang timbul padaku adalah rasa enggan, risih. Apakah ini bertanda sebuah
penolakan? Aku jelas tak tahu. Semua
bentuk kepeduliannya terhadapku walau sejujurnya aku tak berniat mengabaikannya
hanya saja aku merasa enggan. Sampai pada suatu hari ia memintaku untuk
menemuinya.
Aku sangat antusias menemuinya,bukan karena aku merindunya akan tetapi aku
ingin kejelasan darinya, mengapa ia menghantiku? Tidak, tak mungkin aku
bertanya seperti itu. Wajah yang dihiasi senyum menyambutku tetapi itu tak
cukup untuk menghipnotisku terbawa dalam dunia yang indah untuk beberapa detik
dalam mode slow motion. Hanya senyum ringan dan lambaian tanganku dari
kejauahan.
Orbolan ringan darinya tentang kehidupan
disekatar yang tak pernah kuketahui menjadi salah satu daya pikat yang selalu membuatku
antusias, itulah yang kusukai darinya. Seketika rasa takut itu mencengkram
kembali saat ia mengalihkan pembicaraan ketopik yang sama sekali tak kuingini.
Aku hanya menggerutu dalam hati, rasanya aku ingin lekas berlari
sekencang-kecangnya meninggalkan dia, tapi itu tak mungkin.
Tutur-tutur kata manis yang diucapkannya
seharusnya membuat melambung setiap wanita tapi hal itu tak mampu membuatku
bergetar pada semestinya. Semua terasa
datar, aku hanya merasa ia terlalu memaksakan kata-kata itu, iya kata-kata
konyol yang terlontar dari bibirnya. Tak ada rasa antusias lagi dariku layaknya
ia bercerita tentang hidup.
Aku tahu, pasti butuh energi yang besar
untuk membuatnya memberanikan diri mengutarakan semuanya, tapi sayang
perasaanku sudah menolak sejak awal. Dengan penuh kehati-hatian semua kuungkapkan
dengan manis, sedikitpun aku tak ingin menuai luka. Mengerti, satu kata darinya.
Andai saja perkenalan kita tak menumbuhkan sesuatu yang seharusnya tak tumbuh
dengan subur, pastilah tak akan ada torehan luka diantara kamu dan aku.
I always
respect you, i happy beside you as friend....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar