Selasa, 05 November 2013

Kepedulian Menjelma Menjadi Teror


Kamu ulurkan tanganmu begitu saja padaku, dengan guratan senyum yang nempak jelas ditulang rahangmu. Aku yang saat itu heran yang tergambarkan dalam tampang kebodanku, begitu saja menangkap mengulurkan tangannya. Lontaran nama yang terdengar jelas digendang telingaku tetapi belum dapat membuatku mengingat jelas sketsa wajah itu.
Pembicaraan ringan yang kamu suguhkan mampu mencairkan suasana kekakuan diantara kami. Aku mengingatnya, dia salah satu anggota diperkumpulanku dari fakultas yang berbeda. Selang tak beberapa lama setelah kami berkenalan semua sekat-sekat kecanggungan sirna begitu saja diantara kami, sebagai seorang teman. Banyak hal yang selama ini takku ketahui, berkatnya aku menjadi banyak tahu, setidaknya untu saat itu aku senang berteman dengannya. Entah sejak kapan, aku tak mengingat, dering ponselku selalu berdering ramai dengan semua pesan-pesan darinya, untuk beberapa saat ia mendominasi  setalah kebawelan ayahku untuk saat itu.
Setiap kali aku membuka mata saat matahari terbit dari ufuk barat ponselku menampilkan sebuah pesan berisi “Bonjour” dan ketika aku berniat memejamkan mata saat bulan menggantikan sang mentari untuk menyinari dunia, lagi-lagi ponselku berdering yang menampilkan jajaran kata “have a wonderful dream, bonne nuit et doux rĂªves” jelas terpampang dilayar ponselku. Singkat memang psan-pesan itu dan begitu manis jika kedua sejoli saling mengharapkannya, namun tidak denganku. Diawal perkenalan kami, aku selalu membalas dengan ringan namun semakin lama aku merasakan suatu kesan yang
tak membuatku tak nyaman, aku menganggap semua yang ia lalukan sangat tak penting, bodoh dan konyol, namun sekali lagi aku coba tepis anggapanku saat itu.
Hari demi hari berganti, entah mengapa aku merasa, rasa ketidaknyamananku yang sempat aku tepis semakin menemui titik yang menjelaskan bahwa aku benar-benar bagaikan seseorang yang diteror akan sosok itu, sosok yang diawal bagaikan ibu yang hangat namun 180 derajat berubah menjadi mahluk yang siap menerorku setiap saat. Lebih tepatnya aku diteror oleh semua pesan-pesan darinya. Aku tak tahu pasti sejak kapan ia bertransformasi menjadi mahluk yang menyeramkan. Akupun tak mengerti apa modus yang ia lakukan dari semua itu? Membuat hidupku dihinggapi rasa ketakutan sepanjang hari? Atau membuatku hidupku lebih berwarna dengan semua pesan-pesannya? Mungkinkah?
Aku hanya menerka-nerka apakah dia mempunyai rasa padaku yang dituangkan dalam bentuk perhatian namun sayangnya deretan kata-kata manis yang ia rangkai tidak dapat membuatku melayang kelangit ketujuh seperti pada semestinya, justru rasa yang timbul padaku adalah rasa enggan, risih. Apakah ini bertanda sebuah penolakan? Aku jelas tak tahu.  Semua bentuk kepeduliannya terhadapku walau sejujurnya aku tak berniat mengabaikannya hanya saja aku merasa enggan. Sampai pada suatu hari ia memintaku untuk menemuinya.
Aku sangat antusias menemuinya,bukan karena aku merindunya akan tetapi aku ingin kejelasan darinya, mengapa ia menghantiku? Tidak, tak mungkin aku bertanya seperti itu. Wajah yang dihiasi senyum menyambutku tetapi itu tak cukup untuk menghipnotisku terbawa dalam dunia yang indah untuk beberapa detik dalam mode slow motion. Hanya senyum ringan dan lambaian tanganku dari kejauahan.
        Orbolan ringan darinya tentang kehidupan disekatar yang tak pernah kuketahui menjadi salah satu daya pikat yang selalu membuatku antusias, itulah yang kusukai darinya. Seketika rasa takut itu mencengkram kembali saat ia mengalihkan pembicaraan ketopik yang sama sekali tak kuingini. Aku hanya menggerutu dalam hati, rasanya aku ingin lekas berlari sekencang-kecangnya meninggalkan dia, tapi itu tak mungkin.
        Tutur-tutur kata manis yang diucapkannya seharusnya membuat melambung setiap wanita tapi hal itu tak mampu membuatku bergetar  pada semestinya. Semua terasa datar, aku hanya merasa ia terlalu memaksakan kata-kata itu, iya kata-kata konyol yang terlontar dari bibirnya. Tak ada rasa antusias lagi dariku layaknya ia bercerita tentang hidup.
        Aku tahu, pasti butuh energi yang besar untuk membuatnya memberanikan diri mengutarakan semuanya, tapi sayang perasaanku sudah menolak sejak awal. Dengan penuh kehati-hatian semua kuungkapkan dengan manis, sedikitpun aku tak ingin menuai luka. Mengerti, satu kata darinya. Andai saja perkenalan kita tak menumbuhkan sesuatu yang seharusnya tak tumbuh dengan subur, pastilah tak akan ada torehan luka diantara kamu dan aku.
        I always respect you, i happy beside you as friend....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar