Indra penglihatanku masih bisa fungsi dengan baik, ditengah teriknya
matahari siang dan lautan orang-orang yang meyibukkan dirinya, ah aku tak tahu
pasti, akan tetapi yang pasti siang ini aku disuguhkan oleh sosok yang dalam setahun mungkin mataku ini hanya dapat menangkap
wujudnya sesekali saja, dapat dihitung dengan jari, sepertinya. Meskipun kami
berada dalam satu atap yang sama, dalam enam lantai yang tak begitu luas namun
entah mengapa sepertinya kami berotasi sendiri-sendiri,
dan hanya dalam suatu waktu dari 365
hari dalam satu tahun kami bertemu pada titik yang sama, dan aku maupun dia tak
mengetahui waktu tersebut.
Bertemu pada titik yang sama, dalam waktu yang begitu singkat. Satu detik,
dua detik, tiga detik...... aku prediksikan itu sampai 240 detik. Oh my God it’s too short. Sejenak
perhatianku tersita akan dirinya, ah lagi dan lagi otakku
bekerja sendiri, mengorek-ngorek bingkai cerita usang masa lalu, tepatnya di 485 hari yang lalu. Tegurnya menyadarkanku, ah... aku selalu menyempatkan melihat matanya yang terhalang kaca itu disela-sela pembicaan yang singkat tersebut. Ya Tuhan.. mengapa lagi, dan lagi aku tampakkan wajah kebodohanku, ekspresi cuek tak peduli menutupi kekikukanku. Begitu sulit mengendalikan diri, batinku berperang, aku membisu ditengah kebingunganku “apakah yang harus aku katakan?”, di saat seperti ini aku hanya merasa kesal mengapa otakku, mulut dan gesturku berjalan sendiri-sendiri. Aku tak dapat menerjemahkan apa yang otakku perintahkan kedalam kata-kata yang harus kuucapkan. Diam, lagi-lagi sikap itu yang nampak padaku. Kamu perlu tahu diam bukan berati aku malas berbicara padamu namun betapa sulitnya untuk merangkai kata dihadapanmu.
bekerja sendiri, mengorek-ngorek bingkai cerita usang masa lalu, tepatnya di 485 hari yang lalu. Tegurnya menyadarkanku, ah... aku selalu menyempatkan melihat matanya yang terhalang kaca itu disela-sela pembicaan yang singkat tersebut. Ya Tuhan.. mengapa lagi, dan lagi aku tampakkan wajah kebodohanku, ekspresi cuek tak peduli menutupi kekikukanku. Begitu sulit mengendalikan diri, batinku berperang, aku membisu ditengah kebingunganku “apakah yang harus aku katakan?”, di saat seperti ini aku hanya merasa kesal mengapa otakku, mulut dan gesturku berjalan sendiri-sendiri. Aku tak dapat menerjemahkan apa yang otakku perintahkan kedalam kata-kata yang harus kuucapkan. Diam, lagi-lagi sikap itu yang nampak padaku. Kamu perlu tahu diam bukan berati aku malas berbicara padamu namun betapa sulitnya untuk merangkai kata dihadapanmu.
Sekali lagi dia menyapaku, ya bertanya hal yang amat ringan, aku membalas
seadanya. Entahlah bertemu secara tidak sengaja pada titik yang sama menjadi
sesuatu yang menyebalkan, biasa saja, atau kebahagiaan, bagi dia??? Aku rasa
kata kebahagiian perlu dicoret.
Sebelum 240 detik berlalu, kami hanya berdiam diri tanpa kata menunggu hal
yang sama. Satu detik, dua detik tiga detik.... ah itu 60 detik berlalu dari
240 detik tapi hal itu terasa begitu lama ditengah kebisuan kami, kebisingan
ditengah kesibukan orang-orang seakan-akan menjadi angin lalu, terasa sepi
didalam balutan kebisuan kami, mungkin jam tangan kami masing-masing tertawa
tanpa sepengetahuan kami.
“Ting” bunyi lift, memisahkan aku dengannya. Dan lagi-lagi yang terjadi
perpisahan tanpa kata diantara kami. 240 detik berlalu dan terlewati. Terima
kasih atas 240 detik tadi mampu menggerakkan jari-jari kecil ini bergerak
lihai, membuat jajaran huruf alfabet menjadi kata-kata indah penghias cerita
hidupku, dan tentu berkat otakku yang berkerja sendiri dengan baik, tepatnya
merekam kejadian hari ini, tentangmu. Tentangmu
di 427 kata dihari ini.
Standing dumbly when I realize
that we’re meet in the chance , clumsily
in front of you.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar