Senin, 04 November 2013

240 Detik Dihadapanmu

Indra penglihatanku masih bisa fungsi dengan baik, ditengah teriknya matahari siang dan lautan orang-orang yang meyibukkan dirinya, ah aku tak tahu pasti, akan tetapi yang pasti siang ini aku disuguhkan oleh  sosok yang  dalam setahun mungkin mataku ini hanya dapat menangkap wujudnya sesekali saja, dapat dihitung dengan jari, sepertinya. Meskipun kami berada dalam satu atap yang sama, dalam enam lantai yang tak begitu luas namun entah mengapa  sepertinya kami berotasi sendiri-sendiri, dan hanya dalam suatu waktu  dari 365 hari dalam satu tahun kami bertemu pada titik yang sama, dan aku maupun dia tak mengetahui waktu tersebut. 
Bertemu pada titik yang sama, dalam waktu yang begitu singkat. Satu detik, dua detik, tiga detik...... aku prediksikan itu sampai 240 detik. Oh my God it’s too short. Sejenak perhatianku tersita akan dirinya, ah lagi dan lagi otakku
bekerja sendiri, mengorek-ngorek bingkai cerita usang masa lalu,  tepatnya di 485 hari yang lalu. Tegurnya menyadarkanku, ah... aku selalu menyempatkan melihat matanya yang terhalang kaca itu disela-sela pembicaan yang singkat tersebut. Ya Tuhan..  mengapa lagi, dan lagi aku tampakkan wajah kebodohanku, ekspresi cuek tak peduli menutupi kekikukanku. Begitu sulit mengendalikan diri, batinku berperang, aku membisu ditengah kebingunganku “apakah yang harus aku katakan?”, di saat seperti ini aku hanya merasa kesal mengapa otakku, mulut dan gesturku berjalan sendiri-sendiri.  Aku tak dapat menerjemahkan apa yang otakku perintahkan kedalam kata-kata yang harus kuucapkan. Diam, lagi-lagi sikap itu yang nampak padaku. Kamu perlu tahu diam bukan berati aku malas berbicara padamu namun betapa  sulitnya untuk merangkai kata dihadapanmu.  
Sekali lagi dia menyapaku, ya bertanya hal yang amat ringan, aku membalas seadanya. Entahlah bertemu secara tidak sengaja pada titik yang sama menjadi sesuatu yang menyebalkan, biasa saja, atau kebahagiaan, bagi dia??? Aku rasa kata kebahagiian perlu dicoret.
Sebelum 240 detik berlalu, kami hanya berdiam diri tanpa kata menunggu hal yang sama. Satu detik, dua detik tiga detik.... ah itu 60 detik berlalu dari 240 detik tapi hal itu terasa begitu lama ditengah kebisuan kami, kebisingan ditengah kesibukan orang-orang seakan-akan menjadi angin lalu, terasa sepi didalam balutan kebisuan kami, mungkin jam tangan kami masing-masing tertawa tanpa sepengetahuan kami.
“Ting” bunyi lift, memisahkan aku dengannya. Dan lagi-lagi yang terjadi perpisahan tanpa kata diantara kami. 240 detik berlalu dan terlewati. Terima kasih atas 240 detik tadi mampu  menggerakkan jari-jari kecil ini bergerak lihai, membuat jajaran huruf alfabet menjadi kata-kata indah penghias cerita hidupku, dan tentu berkat otakku yang berkerja sendiri dengan baik, tepatnya merekam kejadian hari ini, tentangmu.  Tentangmu di 427 kata dihari ini.

Standing dumbly when I realize that we’re meet  in the chance , clumsily in front of you.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar