Bolehkah waktu kuputar sejenak? Waktu dimana aku belum
menopang rasa ini. Bisakah aku mengatur skenario kisahku? Takkan kujadikan dia
sebagai pemeran utama didalamnya.
Sungguh. Jika aku bisa. Takkan kubiarkan dia mengobrak-abrik hatiku. Pertemuan
singkat. Yang entah kedekatannya diberi
nama apa. Sampai saat ini aku belum memahami sebab semua berbeda.
Dalam perbincangan singkat kita dipesan singkat dan tentu
aku yang memulai percakapan itu. Yah,
tentu saja. Mana mungkin kau yang memulai. Kau yang menciptakan perubahan
ini. Tentu saja aku yang bertanya
mengapa. Yah, kamu bersikap seolah-olah semua baik-baik saja. Dengan alasanmu yang memang masuk akal namun
tak dapat aku percaya. Aku cukup mengiyakan setiap detail responmu yang tentu
belum menjawab tanda tanya besar dalam benakku.
Tuan, andai boleh aku berkomentar, aku belum mampu
menerima
setiap perubahan ini. Pernah kutemui dalam suatu kondisi, ketika amarahku
membucah, kau datang dengan segala jurus jitumu hingga aku merasa begitu teduh
disisimu. Pernah aku temui dalam suatu saat, ketika aku membuka mata kala fajar
mulai malu-malu menampakkan dirinya, dalam ponsel kesayanganku, tertera namamu
dalam deret message-ku.
Pernah kutemui dalam suatu hari, aku dan kamu layaknya
menjadi kita yang utuh. Berdua dalam
alunan canda yang sengaja kau ciptakan untuk menghapus segala letihku. Pernah
kutemui dalam suatu sudut, mata kita saling bertemu. Satu detik, dua detik,
tiga detik, empat detik. Entah berapa detik. Yang kutahu, mata itu meyergap hatiku
diam-diam. Membuat guncangan dahsyat dalam jiwa hingga kutak kuasa melawan
pesonamu.
Tuan.. kamu pernah mengatakan, kamu menemukanku kedua
kali. Tentu sebagai seorang teman dan partner belajar. Kala itu dengan antusias
aku mendengarkan setiap kata yang
terlontar dari mulutmu. Kau menerangkan begitu detail tentang kekontinuitasan
suatu fungsi dalam limit layaknya seorang guru yang mengajarkan muridnya.
Namun, tentu dengan caramu sendiri. Yah, cara unikmu yang menghipnotisku. Tentu
saja.
Tapi Tuan, menurutku aku menemukanmu tiga kali. Dua kali
sama denganmu, dan satu lagi.... sebagai teman hatiku. Ah entahlah. Mungkin aku
terlalu hyper mengartikan segala perhatianmu sebagai cinta. Dengan kata lain,
aku hanya ke-ge-er-an. Malang. Sungguh malang.
Ah entahlah. Perempuan mana yang tak melayang jika disapa manja oleh sosok yang terlihat sempurna
dimatanya. Tentu saja sapaan kesayangan andalannya. Sungguh kau melambungkanku
begitu tinggi.
Tuan, semua itu bukan lelucon. Bukan permainan pula yang dengan mudah bisa kau hentikan dengan sekejap. Ini
tidak lucu tuan. Perlahan aku mulai kehilangan sosokmu. Jika kemarin aku
menemukanmu tiga kali. Maka kali ini aku kehilangan dua kali. Kau menghilang
dalam setiap pagiku. Kau tak ada dalam setiap celah aktivitasku. Kau tak ada
dalam deretan message-ku. Dan kau tak
ada dalam setiap Rabu yang sudah kita bangun bersama. Tentu kau akan paham jika
membaca ini. Yah. Tapi, ah bodoh sekali aku . Sangat mustahil kau akan membaca
deretan paragrap konyol ini. Sejak kapan kau peduli tulisanku. Melihatku saja
enggan. Yah.
Yang kutahu kini, kau hanya teman yang sangat terasa
asing dimataku. Kau seperti sebuah kutub yang jika dipasangkan dengan kutub
yang sama akan tolak menolak. Tapi disini lain ceritanya. Kau yang menjauh. Kau
yang menghilang. Tuan, apakah kau tahu rasanya diterbangkan tinggi-tinggi lalu
dihempaskan begitu saja? Aku takkan menjelaskan bagaimana rasanya. Kerena ku
tahu, kau takkan mengerti.
“Jika aku bukan jalanmu, ku berhenti mengharapkanmu...
Jika memang aku tercipta untukmu, jodoh pasti bertemu”
Dari seseorang yang (mungkin) pernah kamu singgahi.
Repost Real from @umul_ltfh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar