Rabu, 20 November 2013

Belum Ada Judul #RP

Bolehkah waktu kuputar sejenak? Waktu dimana aku belum menopang rasa ini. Bisakah aku mengatur skenario kisahku? Takkan kujadikan dia sebagai pemeran utama didalamnya.  Sungguh. Jika aku bisa. Takkan kubiarkan dia mengobrak-abrik hatiku. Pertemuan singkat. Yang entah  kedekatannya diberi nama apa. Sampai saat ini aku belum memahami sebab semua berbeda.
Dalam perbincangan singkat kita dipesan singkat dan tentu aku yang  memulai percakapan itu. Yah, tentu saja. Mana mungkin kau yang memulai. Kau yang menciptakan perubahan ini.  Tentu saja aku yang bertanya mengapa. Yah, kamu bersikap seolah-olah semua baik-baik saja.  Dengan alasanmu yang memang masuk akal namun tak dapat aku percaya. Aku cukup mengiyakan setiap detail responmu yang tentu belum menjawab tanda tanya besar dalam benakku.
Tuan, andai boleh aku berkomentar, aku belum mampu menerima 
setiap perubahan ini. Pernah kutemui dalam suatu kondisi, ketika amarahku membucah, kau datang dengan segala jurus jitumu hingga aku merasa begitu teduh disisimu. Pernah aku temui dalam suatu saat, ketika aku membuka mata kala fajar mulai malu-malu menampakkan dirinya, dalam ponsel kesayanganku, tertera namamu dalam deret message-ku.
Pernah kutemui dalam suatu hari, aku dan kamu layaknya menjadi  kita yang utuh. Berdua dalam alunan canda yang sengaja kau ciptakan untuk menghapus segala letihku. Pernah kutemui dalam suatu sudut, mata kita saling bertemu. Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik. Entah berapa detik. Yang kutahu, mata itu meyergap hatiku diam-diam. Membuat guncangan dahsyat dalam jiwa hingga kutak kuasa melawan pesonamu.
Tuan.. kamu pernah mengatakan, kamu menemukanku kedua kali. Tentu sebagai seorang teman dan partner belajar. Kala itu dengan antusias aku mendengarkan  setiap kata yang terlontar dari mulutmu. Kau menerangkan begitu detail tentang kekontinuitasan suatu fungsi dalam limit layaknya seorang guru yang mengajarkan muridnya. Namun, tentu dengan caramu sendiri. Yah, cara unikmu yang menghipnotisku. Tentu saja.
Tapi Tuan, menurutku aku menemukanmu tiga kali. Dua kali sama denganmu, dan satu lagi.... sebagai teman hatiku. Ah entahlah. Mungkin aku terlalu hyper mengartikan segala perhatianmu sebagai cinta. Dengan kata lain, aku hanya ke-ge-er-an. Malang. Sungguh malang.  Ah entahlah. Perempuan mana yang tak melayang jika disapa  manja oleh sosok yang terlihat sempurna dimatanya. Tentu saja sapaan kesayangan andalannya. Sungguh kau melambungkanku begitu tinggi.
Tuan, semua itu bukan lelucon. Bukan permainan pula yang dengan  mudah bisa kau hentikan dengan sekejap. Ini tidak lucu tuan. Perlahan aku mulai kehilangan sosokmu. Jika kemarin aku menemukanmu tiga kali. Maka kali ini aku kehilangan dua kali. Kau menghilang dalam setiap pagiku. Kau tak ada dalam setiap celah aktivitasku. Kau tak ada dalam deretan message-ku.  Dan kau tak ada dalam setiap Rabu yang sudah kita bangun bersama. Tentu kau akan paham jika membaca ini. Yah. Tapi, ah bodoh sekali aku . Sangat mustahil kau akan membaca deretan paragrap konyol ini. Sejak kapan kau peduli tulisanku. Melihatku saja enggan. Yah.
Yang kutahu kini, kau hanya teman yang sangat terasa asing dimataku. Kau seperti sebuah kutub yang jika dipasangkan dengan kutub yang sama akan tolak menolak. Tapi disini lain ceritanya. Kau yang menjauh. Kau yang menghilang. Tuan, apakah kau tahu rasanya diterbangkan tinggi-tinggi lalu dihempaskan begitu saja? Aku takkan menjelaskan bagaimana rasanya. Kerena ku tahu, kau takkan mengerti.
“Jika aku bukan jalanmu, ku berhenti mengharapkanmu...
Jika memang aku tercipta untukmu, jodoh pasti bertemu”
Dari seseorang yang (mungkin) pernah kamu singgahi.
Repost Real from @umul_ltfh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar