Menjadi pengagum
rahasiamu? Oh.. tidak pernah menginginkan hal itu, sama sekali. Tapi semua terjadi
begitu saja, dengan lancang dan tanpa permisi, perlahan namun pasti kamu mampu mengisi
kokosongan hatiku, mengobarak-abrik perasaanku, menjadi pemeran utama dilembar-lembar
halaman dalam skenario hidupku. Andai
saja jika aku bisa memilih , takkan kubiarkan kamu merasuki sekat-sekat hatiku,
saat itu.
Berawal dari
sebuah proses pertemanan, jarak dan kerenggang mampu kamu tepiskan diantara
kita. Tentu saja dengan supel kamu memulai semua itu. Sampai pada suatu saat
kamu suguhkan aku dengan perhatian-perhatian yang tak pernah aku rasakan
sebelumnya, kamu tuangkan dalam pesan singkat, entah aku yang terlalu cepat
menyimpulkan atau apa. Setiap malam kamu selalu luangkan waktu untukku, itu
ritinitas terbaruku, dan aku selalu dapat menebak jam berapa kamu akan
meramaikan ponselku. Kusempatkan beberapa menit untuk mereview pecakapan kita
dipesan singkat, ah.. itu selalu membuatku tersenyum diam-diam. Kamu hanya
sekedar bercerita dan kamu selipkan beberapa perhatian didalamnya, mungkin kamu
tak ingin terlalu terburu-buru,
tapi yang pasti aku terlanjur bahagia dengan sapaan dan hal-hal kecil menditail terkait kamu.
tapi yang pasti aku terlanjur bahagia dengan sapaan dan hal-hal kecil menditail terkait kamu.
Aku yang saat
itu terbuai dan selalu antusias tentangmu membiarkan semua mengalir begitu
saja. Perhatian demi perhatin semakin jelas kamu berikan secara bertubi-tubi, semua
yang kamu lakukan membuatku melayang dan melambung tinggi. Wanita mana yang tak
melayang jika diberikan perhatian oleh sosok yang didambakannya. Dan aku terlanjur
menggantungkan asaku padamu.
Hal yang tak
kusadari bahwa perasaan itu semakin tumbuh dan mengakar dihati. Semakin dalam
dan aku semakin bergantung padanya, kamu candu bagiku.
Kalut, yah beberapa hari kamu
tak memberiku kabar. Aku tahu, aku tak bisa menuntutmu untuk memberi kabar
karena hubungan kita dalam status ketidakjelasan. Aku dekat namun aku bukan
siapa-siapamu.
Gendang
telingaku berdengung, mendengar kamu telah terikat dengan seorang wanita,
wanita yang aku kenal sebelumnya. Sesak, merintih hanya itu yang kurasa. Tuan, kamu sungguh bisa buatku melambung dan
seketika kamu hempaskan aku begitu saja. Kamu tahu rasanya? Aku pastikan kamu
tak mengetahui hal itu, jika kamu tahu dan mengerti hal itu aku yakin takkan
pernah kamu lakukan ini kepadaku. Apakah ini caramu memperlakukan setiap
wanita?
Mengapa selama
ini kamu tak berkata apa-apa padaku. Mengapa juga kamu berikan perhatian padaku
jika pada akhirnya kamu jatuhkan aku seperti ini? Mungkin salahku yang saat itu
terlalu bodoh karena rasa yang aku pelihara untukmu dan tak pernah menyadari
bahwa selama ini aku hanya kamu jadikan tempat untuk menyandarkan semua
peluhmu, pijakan untuk mengumpulkan energimu kembali, menjadi tempat singgah
untuk melepaskan semua beban-bebanmu dimana kamu bisa datang dan pergi begitu
saja namun kamu tak pernah benar-benar berniat untuk tinggal disini, dihatiku. Sekuat
tenaga aku berhenti memperjuangkanmu, menghilangkan sosokmu dari hatiku dan
memupuskan asaku untuk dapat menggenggam jemarimu. Menyiksaku, aku lakukan, walau
butuh waktu lama untuk membuat luka ini kering.
Setahun
berselang, disela kesibukannku, aku dikejutkan oleh sosok itu, sang pengembara,
yang kudengar telah berpisah oleh wanita pilihannya. Aku hanya berpeluh mengapa
kini kamu kembali setelah kemarin kamu menetapkan hati padanya, apakah yang kini
kamu inginkan?
Tuan tak
puaskah kamu mengusikku? Mengapa kamu datang kembali mencariku disaat aku sudah
pulih, luka itu telah kering, disaat aku sudah bisa berdiri tegak tanpamu,
disaat aku sudah tak terfokus lagi padamu, ketika kamu bukan lagi sebagai
penyita waktuku, ketika aku tak berminat mengetahui tentangmu, ketika aku sudah
tak menginginkanmu untuk menjadi sesuatu yang lebih, sesuatu yang sangat aku
impikan dahulu, mengapa kamu seakan bergerak aktif memberikan kode-kode yang
amat jelas kepadaku, bertubi-tubi tanpa henti mencoba membawaku kembali pada
dimensi saat aku begitu mendambakanmu. Mengapa kamupun terlalu angkuh untuk
mengatakan bahwa aku akan selalu menerimamu layaknya rumah singgah. Setidaknya
itu kesan tak langsung. Mengapa kamu tak berikan kode-kode itu dahulu, kala
dimana aku menggigil kedinginan, kala aku butuh buaian kasih. Kini aku sudah
terlalu kuat dan tak inginku cicipi bagaimana rasanya luka ini menganga dimana
kamu hempaskan aku begitu saja, untuk kedua kalinya, sungguh tak inginkan itu.
Aku tak sebodoh yang kamu pikir, aku tak ingin membaca buku kedua kalinya yang
sudah kutahu akhirnya. Kini aku merasa
semua kode-kode tak berarti apapun lagi bagiku, aku malas menggubris.
Mengapa kamu terlalu terlambat untuk menyadari hal itu, dan begitu terlambat
untuk mengatakan hal yang selama beberapa tahun lalu sangat ingin kudengar.
Jika kini cintaku sudah kadalursa untukmu, apa semua itu salahku?
Tuan, aku
mohon jangan jadikan aku berperan sebagai antagonis, orang yang jahat dicerita
ini, sesungguhnya akulah yang tertindas. Tuan tak pernah tahukan bagaimana aku
disini berjuang sendiri untuk tetap bertahan melihatmu bersanding dengannya,
dihadapanku, dulu. Tahukah bagaimana usahaku untuk tetap tegar, tegar untuk
tersenyum dihadapanmu dan menganggap seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa,
kala itu. Apakah tuan bisa setegar aku, dulu?
Tak mudah
untukku, begitu banyak air mata yang aku sumbangkan untuk kebahagiaanmu
dengannya, walau kamu tak pernah meminta itu.
Dan sekarang kamu datang
begitu saja, aku tak bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar