Senin, 18 November 2013

Wanita di Tengah Hujan

Senja Gerimis.....
Detik demi detik jarum jam berputar, perlahan demi perlahan namun  dengan pasti ia mengubah sang waktu. Sore pun menjelang kusiapkan semua keperluan untuk menghadapi ujian. Aku abaikan rasa sakit yang menghujam sebagian kepalaku, rasa gelisah dan takut atas pecahnya pembuluh darah dimataku, meskipun siang itu sang penolong dengan baju putih khasnya dan stetoskop di kantungnya mengatakan itu akan baik-baik saja, aaa.. hanya hembusan panjang nafasku yang dapat mewakilkan betapa leganya diriku.
Jam analog berwarna hitam  keemasan bergaya klasik dengan aksen melodi disisi kanan yang kini menghiasi pergelangan tanganku  telah menunjukan seperemapat dari keseluruhan angka-angka yang terjajar rapi. Biru langit dan putihnya awan seketika sirna berganti menjadi kelabu dengan gemuruh-gemuruh suara yang beradu, yang membuat penghuni bumi resah dan takut.  Itulah penyambutan untuk datangnya sang hujan, sang pembawa
berkah, sang pembawa kebahagiaan bagiku disore ini atau mungkin bagi  sebagian orang lain disana yang juga mengharapkan kedatangannya.
Dalam hitungan detik tetesan hujan tumpah membasahi bumi Aaaaa.. aku selalu menunggu kedatanganmu, wahai sang hujan. Hanya sebuah sunggingan senyum yang aku umbar dari jendela di sudut kamar, rumah persinggahanku ini. Derasnya hujan berganti dengan rintik-rintik hujan dan membawaku keluar dari persembunyianku, berbekal payung dan rasa suka, aku langkahkan kakiku menuju kampusku.
****
Rintik-rintik hujan menyambutku saat bergegas pulang, oh hujan kau selalu tahu cara menghiburku, yah setidaknya menghibur atas kebodohanku mengisi beberapa soal. Tak terasa aku kembali di gubuk ini, persinggahanku. Begitu cepatkah aku melangkah? Atau aku yang terlalu menikmati hujan sore ini?
Dering ponsel berbunyi tak lama aku menginjakkan kaki di persembunyianku ini. Pesan dari seseorang yang tak asing,  yang telah menempati ruang-ruang dihatiku dengan lancang, menjadi visual dalam mimpiku,  selalu bermain-main dalam setiap khayalku.  Ponselku berdering kembali sebelum sempat aku membalasnya, ah kini sebuah panggilan “kamu dimana?” seakan aku mengerti akan maksudnya. Hanya dua kata terucap dari suara yang renyah diujung telepon, suara itu selalu membuatku kikuk, aku merasa jutaan kosakata yang aku miliki hilang seketika. “mm.. maaf aku hampir lupa, aku menyusul, tunggu!” ujarku. Panggilan terputus setelah ia mengakhirinya dengan  salam  yang manis.
Sejujurnya aku tak lupa, bahkan aku tak sama sekali lupa, bagaimana mungkin aku bisa lupa begitu saja, mengingat kamu adalah sang pengisi relung-relung hati walau kamu tak pernah benar-benar tinggal dihatiku. Hanya saja aku merasakan sesuatu yang berbeda di senja ini, tentang kita, namun aku tak dapat menerjemahkannya, dan ku coba tepiskan. Ini bukan kali pertama kita pergi bersama, pergi untuk sekedar mencari buku, atau makan bersama. Aku selalu heran, ditengah kesibukanku,  aku selalu saja bisa meluangkan waktu untukmu, kapanpun.  Apa karena aku mempunyai sesuatu asa yang aku gantungkan padamu, atau aku terlalu menikmati waktu bersamamu atau bahkan.......... ah sudah lupakan. Kami memang terlalu dekat untuk gelar sebagai teman tetapi kedekan kami tak cukup untuk merubah status teman menjadi lebih dari pada teman selain kata sahabat.
Sesuatu yang aku rasakan berbeda itu menyeruak kembali saat aku bergegas untuk menemuimu namun segera kutepiskan lagi karena rasa ingin bertemu denganmu lebih besar dari apapun, setidaknya untuk saat itu. Sepanjang jalan hanya ada kamu, sketsamu dari berbagai  sudut, ah lagi lagi otakku bekerja sendiri dengan lancang.
Wajah innocent-mu itu selalu membuatku histeris, histeris saat tak dihadapanmu dan terbata-bata ketika kamu dihadapanku, aku juga merasa hormon endorfinku bekerja dua kali lebih cepat  saat kamu tiba-tiba melintas dipikiranku, begeriliya dalam otakku yang tak pernah tahu waktu, tempat dan kondisi.  Ah kamu sungguh lancang.
Tetesan air hujan jatuh membasahi payung putihku, tetes demi tetes menjadi irama pengiring perjalananku menyusuri  jalan setapak menujumu. Dari kejauhan ia melambaikan tangannya dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya, itu kebiasaannya. Dia selalu dapat membuatku menjadi Aku, membuatku terbuka dan berbagi cerita.
Ditengah aku kami asyik bercerita, datanglah seorang wanita dengan payung merah ditengah senja gerimis ini. Dia melambai sama persis ketika aku datang menemuinya. Aku tak tahu siapakah wanita itu, dia manis dan cantik. Seketika dia mengenalkannya padaku “Li, kenalkan ini kekasihku.....”
....................................................................................................... bersambung..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar