Senja Gerimis.....
Detik demi detik jarum jam berputar, perlahan demi perlahan
namun dengan pasti ia mengubah sang
waktu. Sore pun menjelang kusiapkan semua keperluan untuk menghadapi ujian. Aku
abaikan rasa sakit yang menghujam sebagian kepalaku, rasa gelisah dan takut
atas pecahnya pembuluh darah dimataku, meskipun siang itu sang penolong dengan
baju putih khasnya dan stetoskop di kantungnya mengatakan itu akan baik-baik
saja, aaa.. hanya hembusan panjang nafasku yang dapat mewakilkan betapa leganya
diriku.
Jam analog berwarna hitam keemasan bergaya klasik dengan aksen melodi
disisi kanan yang kini menghiasi pergelangan tanganku telah menunjukan seperemapat dari keseluruhan
angka-angka yang terjajar rapi. Biru langit dan putihnya awan seketika sirna berganti
menjadi kelabu dengan gemuruh-gemuruh suara yang beradu, yang membuat penghuni
bumi resah dan takut. Itulah penyambutan
untuk datangnya sang hujan, sang pembawa
berkah, sang pembawa kebahagiaan bagiku
disore ini atau mungkin bagi sebagian orang lain disana yang juga
mengharapkan kedatangannya.
Dalam hitungan detik tetesan hujan tumpah membasahi bumi Aaaaa..
aku selalu menunggu kedatanganmu, wahai sang hujan. Hanya sebuah sunggingan
senyum yang aku umbar dari jendela di sudut kamar, rumah persinggahanku ini. Derasnya
hujan berganti dengan rintik-rintik hujan dan membawaku keluar dari
persembunyianku, berbekal payung dan rasa suka, aku langkahkan kakiku menuju kampusku.
****
Rintik-rintik hujan menyambutku saat bergegas pulang, oh
hujan kau selalu tahu cara menghiburku, yah setidaknya menghibur atas
kebodohanku mengisi beberapa soal. Tak terasa aku kembali di gubuk ini,
persinggahanku. Begitu cepatkah aku melangkah? Atau aku yang terlalu menikmati
hujan sore ini?
Dering ponsel berbunyi tak lama aku menginjakkan kaki di persembunyianku
ini. Pesan dari seseorang yang tak asing, yang telah menempati ruang-ruang dihatiku
dengan lancang, menjadi visual dalam mimpiku,
selalu bermain-main dalam setiap khayalku. Ponselku berdering kembali sebelum sempat aku
membalasnya, ah kini sebuah panggilan “kamu dimana?” seakan aku mengerti akan
maksudnya. Hanya dua kata terucap dari suara yang renyah diujung telepon, suara
itu selalu membuatku kikuk, aku merasa jutaan kosakata yang aku miliki hilang
seketika. “mm.. maaf aku hampir lupa, aku menyusul, tunggu!” ujarku. Panggilan
terputus setelah ia mengakhirinya dengan
salam yang manis.
Sejujurnya aku tak lupa, bahkan aku tak sama sekali lupa,
bagaimana mungkin aku bisa lupa begitu saja, mengingat kamu adalah sang pengisi
relung-relung hati walau kamu tak pernah benar-benar tinggal dihatiku. Hanya
saja aku merasakan sesuatu yang berbeda di senja ini, tentang kita, namun aku
tak dapat menerjemahkannya, dan ku coba tepiskan. Ini bukan kali pertama kita
pergi bersama, pergi untuk sekedar mencari buku, atau makan bersama. Aku selalu
heran, ditengah kesibukanku, aku selalu
saja bisa meluangkan waktu untukmu, kapanpun.
Apa karena aku mempunyai sesuatu asa yang aku gantungkan padamu, atau
aku terlalu menikmati waktu bersamamu atau bahkan.......... ah sudah lupakan.
Kami memang terlalu dekat untuk gelar sebagai teman tetapi kedekan kami tak
cukup untuk merubah status teman menjadi lebih dari pada teman selain kata
sahabat.
Sesuatu yang aku rasakan berbeda itu menyeruak kembali saat
aku bergegas untuk menemuimu namun segera kutepiskan lagi karena rasa ingin
bertemu denganmu lebih besar dari apapun, setidaknya untuk saat itu. Sepanjang
jalan hanya ada kamu, sketsamu dari berbagai sudut, ah lagi lagi otakku bekerja sendiri
dengan lancang.
Wajah innocent-mu itu selalu membuatku
histeris, histeris saat tak dihadapanmu dan terbata-bata ketika kamu
dihadapanku, aku juga merasa hormon endorfinku bekerja dua kali lebih cepat saat kamu tiba-tiba melintas dipikiranku,
begeriliya dalam otakku yang tak pernah tahu waktu, tempat dan kondisi. Ah kamu sungguh lancang.
Tetesan air hujan
jatuh membasahi payung putihku, tetes demi tetes menjadi irama pengiring
perjalananku menyusuri jalan setapak
menujumu. Dari kejauhan ia melambaikan tangannya dengan senyum yang selalu
menghiasi wajahnya, itu kebiasaannya. Dia selalu dapat membuatku menjadi Aku,
membuatku terbuka dan berbagi cerita.
Ditengah aku kami
asyik bercerita, datanglah seorang wanita dengan payung merah ditengah senja
gerimis ini. Dia melambai sama persis ketika aku datang menemuinya. Aku tak
tahu siapakah wanita itu, dia manis dan cantik. Seketika dia mengenalkannya
padaku “Li, kenalkan ini kekasihku.....”
.......................................................................................................
bersambung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar