Jumat, 02 Desember 2016

Rindu

Rindu terlalu lancang
Tak pernah punya belas kasihan
Egois! Ingin segera dipertemukan
Tapi waktu tak pernah mengijinkan
Membiarkan diriku gelisah dalam ketidakpastian
Lantas haruskah aku diam dalam kesakitan?
Atau mati dalam rindu yang tak tertahankan?

Sabtu, 20 Agustus 2016

Takkan Ada Besok

Aku putuskan tidak akan ada lagi “besok” antara kamu dan aku. Orang awam pun tahu ini tak semudah kelihatannya, menjalaninya,  apalagi secara konsisten dan kemudian menjadi lupa pada klise kelam antara kita. Aku harap segera dapat merubah kita menjadi masing-masing. Kamu adalah kamu dan aku adalah aku, bukan kita (lagi). Dan kembali lagi semua takkan semudah itu layakanya mengubah pertemanan kita menjadi sepasang kekasih.

Cinta itu keseimbangan antara lisan dan aksi. Apa yang telah dikatakan harusnya berbading lurus dengan realitas. Kata-kata harusnya diimplementasikan pada kehidupan nyata, bukan sebagai omong kosong, tameng disaat terdesak atau sebuah monolog belaka. aku merasakan kasih tapi aku takkan lupa dengan logikaku lagi. 

Sabtu, 09 April 2016

Mati di Pangkuan Cinta (Ara)

Ara, sebut saja begitu. 
Ara tak merisaukan ganjil atau genap
Karena Ara terlanjur kuat tuk berdiri sendiri. 
Perjuangan terbesar adalah untuk bangkit setelah jatuh tanpa ada yang dapat memberikan pundak atau uluran hangat tanpa syarat.
Ara yang pernah jatuh tersungkur di bawah nama cinta
Tersesat oleh perasaan yang tak sengaja tertanam, dibiarkan tumbuh, lalu ditinggalkan. 
Ara sendiri dalam kekeringan dan berantakan. 
Ara pernah mati dipangkuan cinta dan pengkhiantan yang membelainya. 

Lia