Unforgettable moment mungkin dua kata itu terlalu
mainstream dan mungkin juga kedua bocah yang beranjak dewasa itu akan sama
persis menuliskan judul tersebut, tapi tidak, karena aku bubuhkan embel-embel
yang berbeda diakhirnya.
Dua bocah itu adalah seorang perempuan yang dulu pernah
menjadi my haters, dulu. Dan bocah kedua adalah seorang pria, Mr.Lonely yang
pernah mempunyai hubungan dengan aku dan Si bocah perempuan itu, lebih tepatnya
aku setelah perempuan itu.
Sabtu, aku langkahkah kaki tuk kembali ke Real House, meninggalkan rumah keduaku,
dan kamu tahu bagaimana rasanya meninggalkan rumah kedua dengan seabreg tugas?
Indah sekali tapi bukan itu hal pentingnya. Niatku pulang tak luput dari perjanjian
untuk menemuinya, yah, Si kecil, si cermin diriku, si haters yang kini menjelma
menjadi entah dinamakan apa.......
mungkin sahabat, ah bukan itu, perlu
dicoret! Aku terlalu takut untuk menyebut kata “sahabat” terlontar dari
bibir-biri mungil kami. Mungkin lebih tepatnya adik dan kaka, itu lebih cocok.
Tiga bulan kami terpisah, tak bertemu. Yah, selepas liburan
panjang. Hanya deretan-deratan kata di layar ponsel, itulah percakapan kami walau
bukan cara jitu, tapi salah satu pengobat
rindu. Ah berlebihan memang tapi begitulah nyatanya. Si kecil yang suka galau
itu ingin melepaskan kepenatan, sejenak melupakan peluh-peluh yang menderanya,
dan merindukanku. Aku juga rasakan itu tapi hanya kata terakhir sebelum titik
saja.
Tak kugantungkan asa terlalu tinggi, bukan karena tak
bahagia, siapa sih yang tak bahagia bertemu seseorang yang sekian lama tak bertemu.
Hanya saja, durasi itu terlalu pendek, hanya 29 jam dari sesampainya aku
dirumah terhitung dengan larutnya malam sampai pagi.
Ponsel berdering, “i
wanna meet you, please hurry up”, pesannya. Aku bersolek didepan cermin,
lagi lagi ponselku berdering yah, percakapan singkat aku dan dia. Ah.. ini
konyol hanya karena situasi kami tak dapat saling bertemu padahal kami sudah sedekat
ini, kurang dari 1km. Kecewa, iya! Pukul 20.00 WIB, whatsapp-ku ramai, sebuah
group yang diberi judul aaaaa.. so weird but it’s made me laughing, giggle,
saat itu, kini jika aku mengingatnya tawa kecil yang kuumbar. Aku, Si kecil dan
si pria itu yang tak lain, cinta SMA kami.
Bagaimana seseorang yang
dulunya saling hater satu sama lain, dengan objek pria yang sama dan kini kami
bertiga menjadi dekat, seperti keluarga namun tanpa membawa rasa kami yang
dahulu. Rasa benci antara aku dan si kecil, rasa cinta dan suka antara aku dan
si Mr.Lonely atau Si kecil dan si Mr. Lonely sudah menguap, sejak lama. Aku
pastikan tak ada yang seperti kami. LOL! Aku saja heran. Mengapa bisa seperti
itu? Tak ada jawaban. Karena hidup ini bukan soal matematika yang selalu ada
jawabannya.
Akhirnya kami bertiga bertemu,
setalah percakapan digroup. Kami bertiga bercerita banyak hal, tentang hidup
kami kini, membicarakan masa depan dan memflash back masa lalu, terbuka tanpa
ada yang ditutup-tutupi. Apa jadinya yah kalo buka-bukaan tentang kisah-kisah
kita saat berhubungan dahulu yang menemui fakta-fakta yang tak pernah kami
temui sebelumnya dengan saling menyimpan rasa suka. Aku pastikan akan terjadi
perang. Tapi tidak dengan kami.
Kami dipisahkan oleh denting
jam tengah malam, berat hati kami perpisah, hingga kini.....
I dont ever forget that
night. Never find the moment. Lol Moment. Unforgettable Moment.
Cici, Si kecil, Mr.
Lonely
Tidak ada komentar:
Posting Komentar