Jumat, 30 Agustus 2013

Memperjuangkan kamu seorang diri


Mengapa saat aku memperjuangkanmu, kamu sama sekali tak pernah menengok kearahku seakan kamu acuh tak acuh, kamu tahu rasanya nyesek? Ya ini menyiksa dan membuatku sesak. Apakah kamu pernah tahu bagaimana perasaanku ketika kamu lebih memilihnya ketimbang aku, bagaimana rasanya bersikap biasa dihadapanmu, bagaimana aku memanipulasi perasaanku, bagaimana tersiksanya aku ketika aku merindukanmu? Apa pernah kamu tahu hal itu, nggak kan! Ya aku memang terlalu bodoh, tersiksa dengan perasaanku sendiri di perparah rasa yang aku bangun sendiri.
Aku hanya kamu jadikan tempat kamu menaruh peluh, tempat kamu beristirahat dan hanya sebagai batu loncatanmu, tak lebih. Ya salahku membuka celah dihatiku, tetapi ketika hati ini tersentuh oleh tutur manismu, sikap baikmu,  siapa yang dapat menepis rasa itu?
Setelah aku sadar jika kamu itu adalah awan, indah dan
terlihat namun tak dapat tergenggam olehku dan aku memutuskan untuk tidak lagi bergantung padamu, mengapa kamu seakan mengulurkan tangan padaku? Aku sangat bahagia, kamu seorang yang aku puja pernah mengisi tiap malam-malamku, setiap mimpiku dan menjadi tokoh utama dalam khayalku dan kini mengulurkan tangannya untukku, apakah aku bisa menolak itu? Tapi mengapa kamu begitu terlambat bahkan sangat terlambat,  aku tak dapat ulurankan tanganku karna aku sudah tak terjatuh akan dirimu (jatuh cinta), aku merangkak sendiri untuk bisa berdiri dan untuk apa uluran tanganmu kini ketika aku sudah berdiri tegak?
Aku hanya bertanya kemana kamu saat aku benar-bener terjatuh akan dirimu dan sangat berharap uluran tanganmu? Aku pastikan aku akan sangat bahagia jikalau kala itu kamu melakukannya untukku. Coba saat aku memperjuangkanmu dan kamu melakukan hal yang sama, semua ini akan indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar