Mata bertemu
mata, tangan saling berjabat tangan, sunggingan senyum saling diperlihatkan,
dan melontarkan nama masing-masing. Yah itulah tahap awal dari sebuah
pertemuan. Canggung memang namun berusaha tepiskan itu. Gurau canda, lengkingan
suara terdengar jelas di gendang telinga.
Aku tak menangkap sinyal apapun di awal pertemuan kita, semua berjalan
sangat normal. Intensitas pertemuan yang semakin sering menumbuhkan perasaan
yang begitu sulit aku jelaskan, kode-kode itu belum dapat aku terjemahkan
secara pasti, ya aku tak ingin menerka-nerka itu, aku takut menyimpulkan ini
terlalu dini. Ya sekali lagi aku takut, aku terlalu takut untuk jatuh kembali
oleh perasaan yang seharusnya tak boleh ada.
Aku bertanya pada
diriku, apakah yang aku rasa? Sekedar suka, kagum, penasaran, obsesi atau
sesuatu yang sulit di deskripsikan dengan wujud abstrak yang tak dapat diukur
massanya dan yang membawa kebahagiaan? Entahlah. Sekali lagi aku takut, takut
terjatuh atas rasa yang aku bangun sendiri dengan kamu sebagai objeknya. Jika
kamu ketahui yang aku rasa setidaknya kamu punya rasa simpatik, itu kasarnya
tapi jika tidak , aku hanya membakar diriku saja, aku yang lelah mempikanmu,
aku yang lelah mengawasi harimu dari kejauhan, aku yang lelah berusaha bersikap
biasa dihadapanmu. Begitu berat pikulanku jika aku lakukan sendiri, andai saja
semua itu kita lakukan bersama, mungkin itu bukan lagi menjadi beban tetapi
menjadi kebahagiaan, untukku dan kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar