Rabu, 18 Oktober 2017

Aku Tak Ingin Melewatkanmu

Entah sudah berapa jam yang sudah kita habiskan bersama. Aku hanya ingat kita memutuskan melipir di kedai kopi ini saat langit sore masih cerah, saat aku belum bertemu senja dan sebelum lampu-lampu temaram menyala.

Aku selalu saja jatuh cinta oleh lampu-lampu temaram berwarna kuning keorange-an. Mereka menyajikan kehangatan, membalut keakraban dengan orang-orang yang sibuk bertukar cerita pada sesamanya.

Kita berdua menelusuri tangga, aku membuntutimu dari belakang. Di sudut ruang itulah kita memulai bercerita. Tidak lupa segelas Ice Chocolate dan kopi Americano dengan gula cair yang kau abaikan melengkapi percakapan kita.

Disela-sela percakapan kita, di antara senda-gurau dan dalam hangatnya gelak tawa. Aku selalu saja diam-diam menyempatkan diri tuk memandangimu lekat-lekat, tentunya tanpa kau sadari, tanpa sepengetahuanmu. Dalam kesempatan lain sesekali aku beranikan diri dengan sengaja memandangimu lagi, kemudian kau hanya tersenyum, begitulah kau aku buat tersimpu malu. Dan lagi-lagi aku selalu suka ekspresi itu. Tolong sadarkan aku apakah kamu yang dihadapanku nyata atau sekedar fantasiku semata?

Aku gagal dalam usaha bersikap biasa, tidak bisa menahan diriku tuk tidak melihat ke arahmu, sekalipun tak ingin melewatkanmu. Aku tahu itu ilegal namun hanya dengan cara tersebut aku dapat merasa tenang. Aku tak punya upaya lain, selain memenuhi pikiranku dengan detail dirimu, sebab aku tak pernah tahu esok kau akan masih di sini atau dengannya yang tak pernah ku tahui sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar