Aku tak menduga malam itu adalah kali terakhir aku bersamamu, bercerita hal yang rasional sampai hal irrasional, aku masih bebas menggenggam tanganmu, bersadar di bahumu, menyentuhmu wajahmu, sampai aku menjahilimu. Ingatanku masih lekat, kau adalah pria yang konsevatif tentang mode, pokerface, kau selalu saja berbicara mengenai hal yang konkrit, sistematis dengan bahasa yang berat. Tak pernah bisa bercerita saatku meminta sebuah cerita.
Persaanku tak ada yang berubah. Degup jantungku bertedak sama persis seperti ritme kala itu, pertama kali aku melihatmu, pertama kali aku mengenalmu. Aku tak memungkiri aku ingin selalu berada dalam dekapan hangat dadamu, merasakan detak jantungmu dan jantungku berirama, kasih sayangmu membelaiku menjadikan aku tak ingin sekalipun meminta kau melepaskan dekapanmu. Namun, semua hanya menjadi seonggok harapan saat aku tahu kau bermain di balakangku. Menutup rapat-rapat semua trikmu dengan senyum dan perlakuan manismu terhadapku. Kau menghianatiku
Aku kira semua telah kembali normal setalah pertengkaran terakhir kita sampai aku mengucap kata yang seharusnya tak boleh terucap. Renggang kemudian tanpa sadar kembali normal seperti biasanya. Tanpa melontarkan satu kata yang menandakan kita ‘aman’.
Memang aku enggan memulai, tapi kau selalu mengutarakan jika engkau tak ingin sendiri mendayung. Pun aku yang terlanjur nyaman disisimu. Aku mengira kita dapat kembali berlayar dalam satu perahu yang sama, lelah mendayung berdua, namun bahagia tiap kali menyaksikan sunset dan sunrise bersama. Akhirnya aku terdasar bahwa aku hanya terbuai oleh fatamorgana, aku terlalu percaya diri, aku salah berpersepsi, aku terlalu membumbung tinggi. Kau memang tak ingin mendayung seorang diri dan bukan jua memintaku mendayung bersamaku lagi. Bodoh, aku terlalu terlambat untuk menyadari bahwa itu bukan aku tetapi wanita 1,5 tahun lalu yang menyobek-nyobek hatiku, memeras perasaanku.
Harusnya dahulu aku tak perlu menyimpan pengharapan padamu, mengorbankan perasaanku dan hanya berbekal kesabaran atas rasa sayangku padamu. Harusnya aku menolak semua bantuanmu saatku terjatuh, jika itu hanya membuatku ketergantungan pada sosokmu. Harusnya dahulu aku tak perlu berdiplomasi dan berdebat hal-hal tolol supaya hubungan ini terus ada. Harusnya sejak awal aku meninggalkanmu ketika kutahu kau dan dia menyakitiku, tapi aku terlalu mempercayaimu. Harusnya aku tak membuang waktuku tuk kedua kalinya jika pada akhirnya yang aku petik adalah rasa sakit. Bodoh! aku hanya seperti menunda rasa sakitku saja. Lihatlah! sekarang luka lamaku kembali menganga di akhir cerita kita.
Malam itu, tepat di hadapanmmu aku sekuat tenaga berusaha mengabaikan apapun yang kau katakan, tak hiraukan semua pembelaan yang kau berikan. Meskipun perkataan serupa bertubitubi kau lontarkan. Aku tak berkutik, terdiam membatu tuk membendung tangisku dalam sesak menahan getir. Kau menyalahkanku, kau jadikan aku tameng atas kesalahan yang telah kau perbuat. Aku terus terdiam, sampai emosiku tak tertahan. Terbata-beta, bibirku bergetar tak kuasa menyimpan gejolak di dalam dada. Semoga kamu bahagia....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar