Memilikimu adalah sebuah anugrah namun ketidakmampuan memilikimu membuat hati semakin merendah -Amalia
Selasa, 13 Agustus 2013
Minggu, 11 Agustus 2013
Kala itu
Saat itu menjadi
saat yang indah dalam hidupku, semua terasa lebih berwarna, hari yang biasanya
berjalan 1x24 jam terasa lebih cepat saat aku berada disampingmu dan berjalan
begitu lambat saat kamu jauh disisiku.
Tak pernah terbesit dalam benakku sebelumnya jika kamu bersanding
denganku, kala itu. Dengan berbagai jalan kamu lakukan untuk menggerakkan
hatiku padamu, mengambil perhatianku dan semua itu berbuah manis kamu dan aku
akhirnya menjadi kita. Saat kamu
tersenyum dan tertawa kamu begitu polos, canda dan guratan senyum yang
terbentuk dari salur-salur wajahmu terlihat setiap kali kamu bersamaku, bola mata yang indah dari matamu selalu
buatku terhipnotis, diam dan melihat dalam-dalam itulah yang kulakukan. Aku
bahagia bisa bersamamu, disampingnya, selalu didekatmu, kala itu. Aku tak ingin
semua itu berakhir begitu saja.
Tetapi
kebahagiaan yang tercipta, perpaduan antara kamu dan aku hilang seketika
Happy Eid Mubarak 1434 H
Allahu Akbar- Allahu Akbar - Allahu Akbar
La.. ilaha ilallahu allah hu akbar
Allahu akbar wa lillah hilham
Ya, kumandang takbir itu bergema sejak malam takbir hingga hari raya. Takbir yang begitu indah mampu membuat jiwa dan sanubariku bergetar, haru sampai bulir-bulir air mata ini menetes tanpa instruksi. Bahagia, sedih semua menjadi satu kesatuan yang sulit di deskripsikan atau di analogikan.
Begitu banyak untaian kata maaf yang tersirat di Hari kemenangan itu, semua kembali suci nan fitri layaknya seseorang yang baru dilahirkan.
Ya Allah terima kasih atas nikmat dan berkahmu, aku masih di beri nafas tanpa kurang suatu apapun di Idul Fitri tahun ini. Bulan yang suci yakni Ramadhan berlalu begitu saja, sesungguhnya hatiku meronta begitu cepatkan bulan yang penuh berkah itu pergi. Ya Allah pertemukanlah hamba kembali dengan ramadhan di tahun yang akan datang.
***
La.. ilaha ilallahu allah hu akbar
Allahu akbar wa lillah hilham
Ya, kumandang takbir itu bergema sejak malam takbir hingga hari raya. Takbir yang begitu indah mampu membuat jiwa dan sanubariku bergetar, haru sampai bulir-bulir air mata ini menetes tanpa instruksi. Bahagia, sedih semua menjadi satu kesatuan yang sulit di deskripsikan atau di analogikan.
Begitu banyak untaian kata maaf yang tersirat di Hari kemenangan itu, semua kembali suci nan fitri layaknya seseorang yang baru dilahirkan.
Ya Allah terima kasih atas nikmat dan berkahmu, aku masih di beri nafas tanpa kurang suatu apapun di Idul Fitri tahun ini. Bulan yang suci yakni Ramadhan berlalu begitu saja, sesungguhnya hatiku meronta begitu cepatkan bulan yang penuh berkah itu pergi. Ya Allah pertemukanlah hamba kembali dengan ramadhan di tahun yang akan datang.
***
Langganan:
Postingan (Atom)




