Sabtu, 09 April 2016

Mati di Pangkuan Cinta (Ara)

Ara, sebut saja begitu. 
Ara tak merisaukan ganjil atau genap
Karena Ara terlanjur kuat tuk berdiri sendiri. 
Perjuangan terbesar adalah untuk bangkit setelah jatuh tanpa ada yang dapat memberikan pundak atau uluran hangat tanpa syarat.
Ara yang pernah jatuh tersungkur di bawah nama cinta
Tersesat oleh perasaan yang tak sengaja tertanam, dibiarkan tumbuh, lalu ditinggalkan. 
Ara sendiri dalam kekeringan dan berantakan. 
Ara pernah mati dipangkuan cinta dan pengkhiantan yang membelainya. 

Lia

Selasa, 29 Desember 2015

Kamuflase Cinta

Kamuflase Cinta
By: Amalia

Mendengar kata kamflase, rasanya tak asing lagi di telinga. Mungkin sebagian besar orang yang mendengar kata "kamuflase" cenderung berpersepsi negatif. Tapi topik kali ini bukan permasalahan negatif atau positif! Yang menjadi permasalahan adalah tanpa sepengetahuanku, diam-diam aku terjerat dalam sebuah kamuflase. Terlebih logika dan perasaan bersama-sama berkonspirasi, sehingga aku menganggap semuanya baik-baik saja, padahal aku berkamuflase.

Mengapa aku katakan kamuflase? Iya, karena aku memainkan peran ganda di dalam sebuah skenario konyol.  Letih, seluruh tenagaku terkuras dan dihisap habis oleh peran yang takku kehendaki ini.
Tak bosan-bosannya kekonyolan menghinggapi kehidupanku yang damai, sebelumnya. Meski harus kuakui, setidaknya kekonyolan itu sedikit membuat statistik pergerakan hidupku yang semula konstan, mungkin cenderung datar tetapi bukan berarti tak menyenangkan. Aku hanya merasa kebahagian dan kesedihanku sebelumnya agak sulit dibedakan, tipis mungkin seperti lembaran kertas 0,001 mm.

Sekarang lihatlah! statistik menunjukan fase chaos, tak karuan, tak dapat diprediksi perubahan antara senang dan sedihnya, amat fluktuatif. Semula porsi hidupku hanya berbicara tentang aku, aku, aku, kemudian entitas lain yaitu keluargaku, temen, dan oke cukup sampai situ! Tapi kini justru yang memakan porsi besar bukan lagi tentang aku, aku dan aku. Justru entitas lain tak terprediksi, diluar dugaan, itu adalah dia. Pria asing, bertingkah bak pangeran layaknya dalam fairytales, mungkin terlihat melebih-lebihkan tapi itulah yang logika dan perasaanku coba terjemahkan dia dalam &:$-"!?/% entah sebenarnya kusebut itu apa.  Tapi "dia"cukup beri pengaruh besar hai sang yang tak punyai wewenang. I literally can’t believe this moment. Yup, stupid moment! 

Terdengar ringan menjadi ganda, tapi mengingat yang kedengaran hasil olahan mulut itu takkan seringan apa yang coba dilakukan oleh raga. Aku menjadi dua pribadi yang amat bertentangan sungguh sebuah cobaan, mengasah kesabaran, menahan pilu sendirian. Ketika dihadapannya, aku harus melakoni peran menjadi “sekedar teman” menjadi biasa, seakan-akan semua tak terjadi apa-apa. Dan section paling memuakkan adalah berusaha menutupi kegetiran dengan senyuman dan tawa lucu, ketika tahu bahwa yang diam-diam dipuja justru bersamanya. Lebih konyol lagi, mengucapkan selamat ketika “he is officially with her, isn’t me”


Dan lakon selanjutnya ketika dia sepenuhnya hanya milikku, setidaknya dalam angan-anganku, perwujudan dari rasa kasihku. Terlihat miris! bahagia hanya dalam fantasi semata ketika dia dan aku benar-benar bersama. Dia bertahta tanpa perlu meminta. Dia bergeriliya dalam semestaku tanpa perlu meminta izin padaku. Dia jelas nyata dalam kamuflaseku.

Sabtu, 21 November 2015

Seret paksa


Sunyi, yang aku dengar hanya tetesan hujan, malam ini.Aku menikmatinya namun seketika saja mereka memanggilku dari kejauhan, melambai-lambai seolah ingin menyeretku pada lubang penyesalan, kesedihan, kemarahan dan kerinduan. Iya itu mereka yang pernah tinggal, itu mereka yang  sekedar singgah karena tersesat tak tahu arah dan tujuan atau bahkan mereka yang hanya numpang lewat dan pergi tanpa pesan. Aku tak pernah sesali jikalau aku terlalu hangat yang hingga mereka berkhianat. -Lia-

Rabu, 21 Oktober 2015

Aku dan Lakon Mereka

Menulis..
Bercerita tanpa suara
Aku pemeran utama
Karena aku sang sutradara
Menulis..
Tak perlu khawatir dia dan mereka
Biarlah jemari dan fantasi bercerita
Kau sejatiku

Bercerita kepada makhluk 3D
Hanya menambah sesak dada
Tak beri nasihat
Hanya menghujat
Membuang waktu
Tak menghasilkan sesuatu
Mereka tak pernah secara jelas tahu
Hal yang sesungguhnya kutahu

Sadarkah kau?
Sesungguhnya...
Tak ada "satuorangpun" yang dapat mendengarkan sepenuh hati.
Mereka hanya ingin di dengar. 
Dan mengabaikan saat kau butuh sandaran.
Mereka mencoba memelukmu 
Hanya ingin tahu
Tak berniat sungguh merangkulmu
Meringkankan bebanmu
Mungkinkah kau salah satunya?
Salah satu orang yang hanya mau di dengar. 
Maka bersiaplah mengais-ngais pelukan
Atau orang yang merindukan sadaran
Tetapi mengabaikan saat mereka rapuh sendirian.