Kamis, 08 Oktober 2015

Menganganya Luka Lama di Akhir Cerita

Aku  tak  menduga  malam  itu  adalah  kali  terakhir  aku  bersamamu,  bercerita  hal  yang  rasional sampai  hal  irrasional,  aku masih  bebas  menggenggam  tanganmu,  bersadar  di  bahumu, menyentuhmu  wajahmu,  sampai  aku  menjahilimu.  Ingatanku  masih  lekat, kau  adalah  pria  yang konsevatif  tentang  mode,  pokerface,  kau  selalu  saja  berbicara  mengenai  hal  yang  konkrit, sistematis  dengan  bahasa  yang  berat.  Tak  pernah  bisa  bercerita  saatku  meminta  sebuah  cerita.

Persaanku  tak  ada  yang  berubah.  Degup  jantungku  bertedak  sama  persis  seperti  ritme  kala  itu, pertama  kali  aku  melihatmu,  pertama  kali  aku  mengenalmu.  Aku  tak  memungkiri  aku  ingin selalu  berada  dalam  dekapan  hangat  dadamu,  merasakan  detak  jantungmu  dan  jantungku berirama,  kasih  sayangmu  membelaiku  menjadikan  aku  tak  ingin  sekalipun  meminta  kau melepaskan  dekapanmu.  Namun,  semua  hanya  menjadi  seonggok  harapan  saat  aku  tahu  kau bermain  di  balakangku.  Menutup  rapat-rapat  semua  trikmu  dengan  senyum  dan  perlakuan manismu  terhadapku.  Kau  menghianatiku 

Aku  kira  semua  telah  kembali  normal  setalah  pertengkaran  terakhir  kita  sampai  aku  mengucap kata  yang  seharusnya  tak  boleh  terucap.  Renggang  kemudian  tanpa  sadar  kembali  normal seperti  biasanya.  Tanpa  melontarkan  satu  kata  yang  menandakan  kita  ‘aman’.

Memang  aku  enggan  memulai,  tapi  kau  selalu  mengutarakan  jika  engkau  tak  ingin  sendiri mendayung.  Pun  aku  yang  terlanjur  nyaman  disisimu.  Aku  mengira  kita  dapat  kembali  berlayar dalam  satu  perahu  yang  sama,  lelah  mendayung  berdua,  namun  bahagia  tiap  kali  menyaksikan sunset  dan  sunrise  bersama.  Akhirnya  aku  terdasar  bahwa  aku  hanya  terbuai  oleh  fatamorgana, aku  terlalu  percaya  diri,  aku  salah  berpersepsi,  aku  terlalu  membumbung  tinggi.  Kau  memang tak  ingin  mendayung  seorang  diri  dan  bukan  jua  memintaku  mendayung  bersamaku  lagi.  Bodoh, aku  terlalu  terlambat  untuk  menyadari  bahwa  itu  bukan  aku  tetapi  wanita  1,5  tahun  lalu  yang menyobek-nyobek  hatiku, memeras perasaanku.

Harusnya  dahulu  aku  tak  perlu  menyimpan  pengharapan  padamu,  mengorbankan  perasaanku dan  hanya  berbekal  kesabaran  atas  rasa  sayangku  padamu.  Harusnya  aku  menolak  semua bantuanmu  saatku  terjatuh,  jika  itu  hanya  membuatku  ketergantungan  pada  sosokmu.   Harusnya  dahulu  aku  tak  perlu  berdiplomasi  dan  berdebat  hal-hal  tolol  supaya  hubungan  ini terus  ada.  Harusnya  sejak  awal  aku  meninggalkanmu  ketika  kutahu  kau  dan  dia  menyakitiku, tapi  aku  terlalu  mempercayaimu.  Harusnya  aku  tak  membuang  waktuku  tuk  kedua  kalinya  jika pada  akhirnya  yang  aku  petik  adalah  rasa  sakit.  Bodoh! aku  hanya  seperti  menunda  rasa  sakitku saja.  Lihatlah! sekarang  luka  lamaku  kembali  menganga  di  akhir  cerita  kita.   

Malam  itu,  tepat  di  hadapanmmu  aku  sekuat  tenaga  berusaha  mengabaikan  apapun  yang  kau katakan,  tak  hiraukan  semua  pembelaan  yang  kau  berikan.  Meskipun  perkataan  serupa  bertubitubi  kau  lontarkan.  Aku  tak  berkutik,  terdiam  membatu  tuk  membendung  tangisku  dalam  sesak menahan  getir.  Kau  menyalahkanku,  kau  jadikan  aku  tameng  atas  kesalahan  yang  telah  kau perbuat.  Aku  terus  terdiam,  sampai  emosiku  tak  tertahan.  Terbata-beta,  bibirku  bergetar  tak kuasa  menyimpan  gejolak  di  dalam  dada.    Semoga  kamu  bahagia.... 

Kegundahan Seorang Ingusan

Aku, dirundung kegelisahan dan problematika kehidupan
kau 'ku tinggalkan
Sebagai korban ketidakbecusan
Menghadapi kehidupan
Yang dilakoni seorang ingusan
Terombang ambing
Hidup dalam samar-samar
Tak tahu arah dan tujuan
Aku kelimpungan

Aku berharap kau dapat memaafkan diriku yang semena-mena memutuskan apa yang telah kita coba satukan
Aku tak miliki pegangan. 
Kau yang nyata ada justru tak mampu melerai besarnya cambukan permasalahan
Kegelisahanku mengolok-oloku
Aku tak berkutik
Diam dan terpelosok dalam lembah keputusasaan

Minggu, 23 Agustus 2015

Aku yang di Kecewakan

Lagi, iya lagi lagi aku menelan pahit. 
Kalau aku boleh berkata jujur yang sesungguhnya. aku tak sanggup menahan sasak di dadaku. Dua bola mataku pun tak sanggup untuk menahan perih ini lebih lama lagi. Tak terbendung derai air mataku saat aku telah yakin, kamu benar-benar tak ada di sisiku, di hari yang aku anggap spesial dalam hidupku. 
Namun aku terlalu naif apabila bersedih. Pun aku tak mengerti dan tak tahu pasti jika aku menangis, untuk apa tangisan ini? Untukmu yg mengabaikanku dengan semua alibimu yg menganggap seolah hal yang kulakukan tidak lebih penting dari apa yg kamu lakukan? Atau justru ini tangisan haru untuk mereka, sabahatku yg rela mendatangiku, menyempatkan waktunya untukku, meninggalkan sejenak kesibukannya hanya untuk membuat memori indah bersamaku di momen yg telah kutunggu selama 3 tahun?

"Mmm haha" mungkin tawa singkat dengan senyum sinis pantas untuk mengejek diriku sendiri. Bodoh.. Aku terlalu menggantungkan asa dan berharap sempurna. Mitos kamu hadir di sini, dengan sebuah kejutan yg telah kamu rencanakan. Tak lupa kerlingan indah matamu, senyum manis yang tergurat dari bibir tipismu serta suara renyah yang selalu mengisi gendang telingaku sambil kamu berlari menghampiriku dengan bucket bunga yang khusus kamu siapkan untukku.
Tapi naas nasibku, semua asaku hanya berakhir dengan kepulan asap hitam. Tak bisa kuraih hanya bisa ku pandang, iya itu adalah asa kepedihan.
Tidak, aku tak menyalahkanmu! Iya aku tak menyalahkanmu. Aku hanya sesali diriku yg terlalu naif membuat asa yang bertentangan dari realita dan justru membuatku terhempas dan jatuh terpelosok lebih dalam dalam jurang kepedihan. Dan ketiadaanmu menggerus perasaanku, menyobek-nyobek hatiku. 

Perih ini masih dapat ku tahan. Aku yakin ketika waktumu senggang diantara kesibukan yang membuaimu, kamu kan katakan hal yang kuharapkan dan kamu bersikap sebagaimana mestinya. Saat hal itu terjadi, semua lukaku akan hilang seketika. Aku menunggu....

Apakah ini mimpi buruk? Belumlah pulih lukaku. Mengapa kamu dengan tega menyiram luka mengangaku dengan air garam? 
Mengapa kamu terlalu enggan hanya untuk mengatakan "selamat sayang"? Mengapa langkahmu amat berat untuk datang menghampiriku saat kamu sejanak terbebas dari kesibukanmu.
Aku sudah terlalu merelakan diriku untuk kamu kecawakan lagi dan lagi. Sudah.. Aku memaklumi semua aktivitasmu yang menggadaikan kasih sayangku. 

Kamu mungkin takkan pernah tahu betapa perih yang kurasa. Karena memang mungkin disini hanyalah aku yang mencinta. Hanya aku yang berusaha agar hubungan ini terus tercipta. Sedang kamu perlahan menghancurkan apa yang telah kita bina.
Aku takkan pernah mau untuk mendengar jika kamu sudah tak mencintaiku. 
Bodoh. Iya aku bodoh aku mencoba menutupi kepedihan dan realita miris dengan terus berkata semua baik baik saja. Terus berprasangka baik dibalik kekecewaan yang terlalu sering kualami.
Pernah suatu waktu ku coba untuk mengatakan padamu dengan lantang "aku kecewa" namun semua itu hanya tertahan dibibirku.


Sebuah kata kasar saat aku bergumam adalah "Harusnya kamu berterima kasih padaku" semua hal yang kamu lakukan yang menjadi sebab sakitnya aku, aku masih bertahan. Bukan, bukan karena aku mengabaikan realita, bukan karena aku tak peka jika kamu sudah tak lagi mencinta tetapi aku hanya ingin berbaik sangka karena aku mencintaimu—

Minggu, 07 Juni 2015

No title needed

Saat kesusahan memburuku
Saat kesedihan selalu mengintaiku
Tak seseorang yang bersedia meminjami bahu yang terlihat tegak.
Hanya kepada-Mu
Ku sampaikan kegusaranku
Aku curahkan semua pelikku
Hanya Engkau yg ketahui itu
Aku memang tak dapat mendengar suara-Mu
Namun aku percaya Engkau mendengarku.
Memberiku solusi terbaik~