Rabu, 18 Oktober 2017

Aku Tak Ingin Melewatkanmu

Entah sudah berapa jam yang sudah kita habiskan bersama. Aku hanya ingat kita memutuskan melipir di kedai kopi ini saat langit sore masih cerah, saat aku belum bertemu senja dan sebelum lampu-lampu temaram menyala.

Aku selalu saja jatuh cinta oleh lampu-lampu temaram berwarna kuning keorange-an. Mereka menyajikan kehangatan, membalut keakraban dengan orang-orang yang sibuk bertukar cerita pada sesamanya.

Kita berdua menelusuri tangga, aku membuntutimu dari belakang. Di sudut ruang itulah kita memulai bercerita. Tidak lupa segelas Ice Chocolate dan kopi Americano dengan gula cair yang kau abaikan melengkapi percakapan kita.

Disela-sela percakapan kita, di antara senda-gurau dan dalam hangatnya gelak tawa. Aku selalu saja diam-diam menyempatkan diri tuk memandangimu lekat-lekat, tentunya tanpa kau sadari, tanpa sepengetahuanmu. Dalam kesempatan lain sesekali aku beranikan diri dengan sengaja memandangimu lagi, kemudian kau hanya tersenyum, begitulah kau aku buat tersimpu malu. Dan lagi-lagi aku selalu suka ekspresi itu. Tolong sadarkan aku apakah kamu yang dihadapanku nyata atau sekedar fantasiku semata?

Aku gagal dalam usaha bersikap biasa, tidak bisa menahan diriku tuk tidak melihat ke arahmu, sekalipun tak ingin melewatkanmu. Aku tahu itu ilegal namun hanya dengan cara tersebut aku dapat merasa tenang. Aku tak punya upaya lain, selain memenuhi pikiranku dengan detail dirimu, sebab aku tak pernah tahu esok kau akan masih di sini atau dengannya yang tak pernah ku tahui sebelumnya.

Jumat, 02 Desember 2016

Rindu

Rindu terlalu lancang
Tak pernah punya belas kasihan
Egois! Ingin segera dipertemukan
Tapi waktu tak pernah mengijinkan
Membiarkan diriku gelisah dalam ketidakpastian
Lantas haruskah aku diam dalam kesakitan?
Atau mati dalam rindu yang tak tertahankan?

Sabtu, 20 Agustus 2016

Takkan Ada Besok

Aku putuskan tidak akan ada lagi “besok” antara kamu dan aku. Orang awam pun tahu ini tak semudah kelihatannya, menjalaninya,  apalagi secara konsisten dan kemudian menjadi lupa pada klise kelam antara kita. Aku harap segera dapat merubah kita menjadi masing-masing. Kamu adalah kamu dan aku adalah aku, bukan kita (lagi). Dan kembali lagi semua takkan semudah itu layakanya mengubah pertemanan kita menjadi sepasang kekasih.

Cinta itu keseimbangan antara lisan dan aksi. Apa yang telah dikatakan harusnya berbading lurus dengan realitas. Kata-kata harusnya diimplementasikan pada kehidupan nyata, bukan sebagai omong kosong, tameng disaat terdesak atau sebuah monolog belaka. aku merasakan kasih tapi aku takkan lupa dengan logikaku lagi. 

Sabtu, 09 April 2016

Mati di Pangkuan Cinta (Ara)

Ara, sebut saja begitu. 
Ara tak merisaukan ganjil atau genap
Karena Ara terlanjur kuat tuk berdiri sendiri. 
Perjuangan terbesar adalah untuk bangkit setelah jatuh tanpa ada yang dapat memberikan pundak atau uluran hangat tanpa syarat.
Ara yang pernah jatuh tersungkur di bawah nama cinta
Tersesat oleh perasaan yang tak sengaja tertanam, dibiarkan tumbuh, lalu ditinggalkan. 
Ara sendiri dalam kekeringan dan berantakan. 
Ara pernah mati dipangkuan cinta dan pengkhiantan yang membelainya. 

Lia

Selasa, 29 Desember 2015

Kamuflase Cinta

Kamuflase Cinta
By: Amalia

Mendengar kata kamflase, rasanya tak asing lagi di telinga. Mungkin sebagian besar orang yang mendengar kata "kamuflase" cenderung berpersepsi negatif. Tapi topik kali ini bukan permasalahan negatif atau positif! Yang menjadi permasalahan adalah tanpa sepengetahuanku, diam-diam aku terjerat dalam sebuah kamuflase. Terlebih logika dan perasaan bersama-sama berkonspirasi, sehingga aku menganggap semuanya baik-baik saja, padahal aku berkamuflase.

Mengapa aku katakan kamuflase? Iya, karena aku memainkan peran ganda di dalam sebuah skenario konyol.  Letih, seluruh tenagaku terkuras dan dihisap habis oleh peran yang takku kehendaki ini.
Tak bosan-bosannya kekonyolan menghinggapi kehidupanku yang damai, sebelumnya. Meski harus kuakui, setidaknya kekonyolan itu sedikit membuat statistik pergerakan hidupku yang semula konstan, mungkin cenderung datar tetapi bukan berarti tak menyenangkan. Aku hanya merasa kebahagian dan kesedihanku sebelumnya agak sulit dibedakan, tipis mungkin seperti lembaran kertas 0,001 mm.

Sekarang lihatlah! statistik menunjukan fase chaos, tak karuan, tak dapat diprediksi perubahan antara senang dan sedihnya, amat fluktuatif. Semula porsi hidupku hanya berbicara tentang aku, aku, aku, kemudian entitas lain yaitu keluargaku, temen, dan oke cukup sampai situ! Tapi kini justru yang memakan porsi besar bukan lagi tentang aku, aku dan aku. Justru entitas lain tak terprediksi, diluar dugaan, itu adalah dia. Pria asing, bertingkah bak pangeran layaknya dalam fairytales, mungkin terlihat melebih-lebihkan tapi itulah yang logika dan perasaanku coba terjemahkan dia dalam &:$-"!?/% entah sebenarnya kusebut itu apa.  Tapi "dia"cukup beri pengaruh besar hai sang yang tak punyai wewenang. I literally can’t believe this moment. Yup, stupid moment! 

Terdengar ringan menjadi ganda, tapi mengingat yang kedengaran hasil olahan mulut itu takkan seringan apa yang coba dilakukan oleh raga. Aku menjadi dua pribadi yang amat bertentangan sungguh sebuah cobaan, mengasah kesabaran, menahan pilu sendirian. Ketika dihadapannya, aku harus melakoni peran menjadi “sekedar teman” menjadi biasa, seakan-akan semua tak terjadi apa-apa. Dan section paling memuakkan adalah berusaha menutupi kegetiran dengan senyuman dan tawa lucu, ketika tahu bahwa yang diam-diam dipuja justru bersamanya. Lebih konyol lagi, mengucapkan selamat ketika “he is officially with her, isn’t me”


Dan lakon selanjutnya ketika dia sepenuhnya hanya milikku, setidaknya dalam angan-anganku, perwujudan dari rasa kasihku. Terlihat miris! bahagia hanya dalam fantasi semata ketika dia dan aku benar-benar bersama. Dia bertahta tanpa perlu meminta. Dia bergeriliya dalam semestaku tanpa perlu meminta izin padaku. Dia jelas nyata dalam kamuflaseku.

Sabtu, 21 November 2015

Seret paksa


Sunyi, yang aku dengar hanya tetesan hujan, malam ini.Aku menikmatinya namun seketika saja mereka memanggilku dari kejauhan, melambai-lambai seolah ingin menyeretku pada lubang penyesalan, kesedihan, kemarahan dan kerinduan. Iya itu mereka yang pernah tinggal, itu mereka yang  sekedar singgah karena tersesat tak tahu arah dan tujuan atau bahkan mereka yang hanya numpang lewat dan pergi tanpa pesan. Aku tak pernah sesali jikalau aku terlalu hangat yang hingga mereka berkhianat. -Lia-

Rabu, 21 Oktober 2015

Aku dan Lakon Mereka

Menulis..
Bercerita tanpa suara
Aku pemeran utama
Karena aku sang sutradara
Menulis..
Tak perlu khawatir dia dan mereka
Biarlah jemari dan fantasi bercerita
Kau sejatiku

Bercerita kepada makhluk 3D
Hanya menambah sesak dada
Tak beri nasihat
Hanya menghujat
Membuang waktu
Tak menghasilkan sesuatu
Mereka tak pernah secara jelas tahu
Hal yang sesungguhnya kutahu

Sadarkah kau?
Sesungguhnya...
Tak ada "satuorangpun" yang dapat mendengarkan sepenuh hati.
Mereka hanya ingin di dengar. 
Dan mengabaikan saat kau butuh sandaran.
Mereka mencoba memelukmu 
Hanya ingin tahu
Tak berniat sungguh merangkulmu
Meringkankan bebanmu
Mungkinkah kau salah satunya?
Salah satu orang yang hanya mau di dengar. 
Maka bersiaplah mengais-ngais pelukan
Atau orang yang merindukan sadaran
Tetapi mengabaikan saat mereka rapuh sendirian.

Kamis, 08 Oktober 2015

Menganganya Luka Lama di Akhir Cerita

Aku  tak  menduga  malam  itu  adalah  kali  terakhir  aku  bersamamu,  bercerita  hal  yang  rasional sampai  hal  irrasional,  aku masih  bebas  menggenggam  tanganmu,  bersadar  di  bahumu, menyentuhmu  wajahmu,  sampai  aku  menjahilimu.  Ingatanku  masih  lekat, kau  adalah  pria  yang konsevatif  tentang  mode,  pokerface,  kau  selalu  saja  berbicara  mengenai  hal  yang  konkrit, sistematis  dengan  bahasa  yang  berat.  Tak  pernah  bisa  bercerita  saatku  meminta  sebuah  cerita.

Persaanku  tak  ada  yang  berubah.  Degup  jantungku  bertedak  sama  persis  seperti  ritme  kala  itu, pertama  kali  aku  melihatmu,  pertama  kali  aku  mengenalmu.  Aku  tak  memungkiri  aku  ingin selalu  berada  dalam  dekapan  hangat  dadamu,  merasakan  detak  jantungmu  dan  jantungku berirama,  kasih  sayangmu  membelaiku  menjadikan  aku  tak  ingin  sekalipun  meminta  kau melepaskan  dekapanmu.  Namun,  semua  hanya  menjadi  seonggok  harapan  saat  aku  tahu  kau bermain  di  balakangku.  Menutup  rapat-rapat  semua  trikmu  dengan  senyum  dan  perlakuan manismu  terhadapku.  Kau  menghianatiku 

Aku  kira  semua  telah  kembali  normal  setalah  pertengkaran  terakhir  kita  sampai  aku  mengucap kata  yang  seharusnya  tak  boleh  terucap.  Renggang  kemudian  tanpa  sadar  kembali  normal seperti  biasanya.  Tanpa  melontarkan  satu  kata  yang  menandakan  kita  ‘aman’.

Memang  aku  enggan  memulai,  tapi  kau  selalu  mengutarakan  jika  engkau  tak  ingin  sendiri mendayung.  Pun  aku  yang  terlanjur  nyaman  disisimu.  Aku  mengira  kita  dapat  kembali  berlayar dalam  satu  perahu  yang  sama,  lelah  mendayung  berdua,  namun  bahagia  tiap  kali  menyaksikan sunset  dan  sunrise  bersama.  Akhirnya  aku  terdasar  bahwa  aku  hanya  terbuai  oleh  fatamorgana, aku  terlalu  percaya  diri,  aku  salah  berpersepsi,  aku  terlalu  membumbung  tinggi.  Kau  memang tak  ingin  mendayung  seorang  diri  dan  bukan  jua  memintaku  mendayung  bersamaku  lagi.  Bodoh, aku  terlalu  terlambat  untuk  menyadari  bahwa  itu  bukan  aku  tetapi  wanita  1,5  tahun  lalu  yang menyobek-nyobek  hatiku, memeras perasaanku.

Harusnya  dahulu  aku  tak  perlu  menyimpan  pengharapan  padamu,  mengorbankan  perasaanku dan  hanya  berbekal  kesabaran  atas  rasa  sayangku  padamu.  Harusnya  aku  menolak  semua bantuanmu  saatku  terjatuh,  jika  itu  hanya  membuatku  ketergantungan  pada  sosokmu.   Harusnya  dahulu  aku  tak  perlu  berdiplomasi  dan  berdebat  hal-hal  tolol  supaya  hubungan  ini terus  ada.  Harusnya  sejak  awal  aku  meninggalkanmu  ketika  kutahu  kau  dan  dia  menyakitiku, tapi  aku  terlalu  mempercayaimu.  Harusnya  aku  tak  membuang  waktuku  tuk  kedua  kalinya  jika pada  akhirnya  yang  aku  petik  adalah  rasa  sakit.  Bodoh! aku  hanya  seperti  menunda  rasa  sakitku saja.  Lihatlah! sekarang  luka  lamaku  kembali  menganga  di  akhir  cerita  kita.   

Malam  itu,  tepat  di  hadapanmmu  aku  sekuat  tenaga  berusaha  mengabaikan  apapun  yang  kau katakan,  tak  hiraukan  semua  pembelaan  yang  kau  berikan.  Meskipun  perkataan  serupa  bertubitubi  kau  lontarkan.  Aku  tak  berkutik,  terdiam  membatu  tuk  membendung  tangisku  dalam  sesak menahan  getir.  Kau  menyalahkanku,  kau  jadikan  aku  tameng  atas  kesalahan  yang  telah  kau perbuat.  Aku  terus  terdiam,  sampai  emosiku  tak  tertahan.  Terbata-beta,  bibirku  bergetar  tak kuasa  menyimpan  gejolak  di  dalam  dada.    Semoga  kamu  bahagia.... 

Kegundahan Seorang Ingusan

Aku, dirundung kegelisahan dan problematika kehidupan
kau 'ku tinggalkan
Sebagai korban ketidakbecusan
Menghadapi kehidupan
Yang dilakoni seorang ingusan
Terombang ambing
Hidup dalam samar-samar
Tak tahu arah dan tujuan
Aku kelimpungan

Aku berharap kau dapat memaafkan diriku yang semena-mena memutuskan apa yang telah kita coba satukan
Aku tak miliki pegangan. 
Kau yang nyata ada justru tak mampu melerai besarnya cambukan permasalahan
Kegelisahanku mengolok-oloku
Aku tak berkutik
Diam dan terpelosok dalam lembah keputusasaan

Minggu, 23 Agustus 2015

Aku yang di Kecewakan

Lagi, iya lagi lagi aku menelan pahit. 
Kalau aku boleh berkata jujur yang sesungguhnya. aku tak sanggup menahan sasak di dadaku. Dua bola mataku pun tak sanggup untuk menahan perih ini lebih lama lagi. Tak terbendung derai air mataku saat aku telah yakin, kamu benar-benar tak ada di sisiku, di hari yang aku anggap spesial dalam hidupku. 
Namun aku terlalu naif apabila bersedih. Pun aku tak mengerti dan tak tahu pasti jika aku menangis, untuk apa tangisan ini? Untukmu yg mengabaikanku dengan semua alibimu yg menganggap seolah hal yang kulakukan tidak lebih penting dari apa yg kamu lakukan? Atau justru ini tangisan haru untuk mereka, sabahatku yg rela mendatangiku, menyempatkan waktunya untukku, meninggalkan sejenak kesibukannya hanya untuk membuat memori indah bersamaku di momen yg telah kutunggu selama 3 tahun?

"Mmm haha" mungkin tawa singkat dengan senyum sinis pantas untuk mengejek diriku sendiri. Bodoh.. Aku terlalu menggantungkan asa dan berharap sempurna. Mitos kamu hadir di sini, dengan sebuah kejutan yg telah kamu rencanakan. Tak lupa kerlingan indah matamu, senyum manis yang tergurat dari bibir tipismu serta suara renyah yang selalu mengisi gendang telingaku sambil kamu berlari menghampiriku dengan bucket bunga yang khusus kamu siapkan untukku.
Tapi naas nasibku, semua asaku hanya berakhir dengan kepulan asap hitam. Tak bisa kuraih hanya bisa ku pandang, iya itu adalah asa kepedihan.
Tidak, aku tak menyalahkanmu! Iya aku tak menyalahkanmu. Aku hanya sesali diriku yg terlalu naif membuat asa yang bertentangan dari realita dan justru membuatku terhempas dan jatuh terpelosok lebih dalam dalam jurang kepedihan. Dan ketiadaanmu menggerus perasaanku, menyobek-nyobek hatiku. 

Perih ini masih dapat ku tahan. Aku yakin ketika waktumu senggang diantara kesibukan yang membuaimu, kamu kan katakan hal yang kuharapkan dan kamu bersikap sebagaimana mestinya. Saat hal itu terjadi, semua lukaku akan hilang seketika. Aku menunggu....

Apakah ini mimpi buruk? Belumlah pulih lukaku. Mengapa kamu dengan tega menyiram luka mengangaku dengan air garam? 
Mengapa kamu terlalu enggan hanya untuk mengatakan "selamat sayang"? Mengapa langkahmu amat berat untuk datang menghampiriku saat kamu sejanak terbebas dari kesibukanmu.
Aku sudah terlalu merelakan diriku untuk kamu kecawakan lagi dan lagi. Sudah.. Aku memaklumi semua aktivitasmu yang menggadaikan kasih sayangku. 

Kamu mungkin takkan pernah tahu betapa perih yang kurasa. Karena memang mungkin disini hanyalah aku yang mencinta. Hanya aku yang berusaha agar hubungan ini terus tercipta. Sedang kamu perlahan menghancurkan apa yang telah kita bina.
Aku takkan pernah mau untuk mendengar jika kamu sudah tak mencintaiku. 
Bodoh. Iya aku bodoh aku mencoba menutupi kepedihan dan realita miris dengan terus berkata semua baik baik saja. Terus berprasangka baik dibalik kekecewaan yang terlalu sering kualami.
Pernah suatu waktu ku coba untuk mengatakan padamu dengan lantang "aku kecewa" namun semua itu hanya tertahan dibibirku.


Sebuah kata kasar saat aku bergumam adalah "Harusnya kamu berterima kasih padaku" semua hal yang kamu lakukan yang menjadi sebab sakitnya aku, aku masih bertahan. Bukan, bukan karena aku mengabaikan realita, bukan karena aku tak peka jika kamu sudah tak lagi mencinta tetapi aku hanya ingin berbaik sangka karena aku mencintaimu—

Minggu, 07 Juni 2015

No title needed

Saat kesusahan memburuku
Saat kesedihan selalu mengintaiku
Tak seseorang yang bersedia meminjami bahu yang terlihat tegak.
Hanya kepada-Mu
Ku sampaikan kegusaranku
Aku curahkan semua pelikku
Hanya Engkau yg ketahui itu
Aku memang tak dapat mendengar suara-Mu
Namun aku percaya Engkau mendengarku.
Memberiku solusi terbaik~

Rabu, 20 Agustus 2014

Kau sudah tahu jawabannya.

........ tak perlu kujabarkan layaknya rumus yang selalu kau pecahkan dalam rutinitas keseharianmu, Nona. Aku telah membaca, bukan sekedar membaca tapi merasa! Terenyuh, naif apabila aku pernah menyadari semua yg terjadi.
Nona... aku yakin kau sudah tahu jawabanya dan serta merta tahu sejak kapan aku membacanya. Bisuku bkn berarti aku tak mengetahui apapun, jelas aku jg rasakan yg sama, seperti yg nona rasa. Aku takkan mengelak. Maafkan aku nona. ..
Kini waktu hampir membawa kita dipenghujung waktu liburan, kau dan aku  akan kembali ke aktivitas dan rutinitas kita masing2. Aku harap itu bukan menjadi pembatas hubungan kita yah, tak ada sekat. Semoga kita bisa seperti dahulu, lagi—bahkan lebih dari itu.

Kamis, 31 Juli 2014

Yang Kau Pinta, Kau Hapuskan

Untuk apa dahulu kamu gemborkan.  Jika kini kamu sendiri yang padamkan. Aku tak pernah meminta hal itu untuk kau lakukan, namun bukan berarti aku enggan menunjukan, yah, rajutan kisah kita. Aku tak memojokkanmu, aku tentu mengerti saat itu kita terbuai oleh rasa bahagia yang mendekap erat kita hingga menghipnotis tuk tunjukan kepada dunia bahwa kita bahagia.

Akan tetapi, nampaknya kau seolah  terburu-buru, padahal kita belum membuktikan apapun pada waktu. Terlalu besar energi yang kau keluarkan diawal memulai rajutan, hingga kini kau lelah tertatih, jalanmu terseok-seok dan kau mulai menyerah, perlahan demi perlahan kau coba lepaskan genggamanmu saat kita berjalan beriringan, sedang kita barulah saja memulai.  Apakah nanti kau akan biarkan aku berjalan sendirian?

Aku masih mengingat dengan jelas dalam memori ingatanku, saat-saat dimana kau lontarkan pertanyaan-pertanyaan untukku, pertanyaan-pertanyaan yang memang patut dipertanyakan. “Sayang kau malu menunjukan?”, “Kau risih dengan hal yang kulakukan?”

Kau tahu tidak, saat itu terlalu mengejutkan, aku yang sudah cukup lama berkutat dalam kesendirian, butuh  waktu tuk menyadarkan apakah aku masih dialam bawah sadar atau kau bersamaku memang dalam subuah kenyataan. Sebab selama ini kau adalah mimpiku yang tak bisa kuraih dikehidupan nyataku. Salahkan jika aku meminta waktu untuk beradaptasi terhadap hal-hal baru dalam rutinitas keseharianku, iya, bersamamu.

Lagi-lagi bukan persoalan enggan, aku hanya ingin hubungan kita mengalir, membiarkan semuanya tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, setahap-demi setahap. Biarlah mereka yang mencari tahu tentang kita, bukan kita memberitahu tentang kita. Jika semua dirasa sudah dewasa, kau dan aku mantap melenggang bersama tuk hadapi jalan terjal yang menanti kita, maka saat itulah waktu yang tepat tuk tunjukan bahwa kini kau dan aku adalah kita, kita adalah satu, satu tujuan tuk mewujudkan semua asa yang kita gantungkan dimasa depan.

Aku tak menghakimi bahwa itu susuatu yang salah, naif jika aku tak mengharapkan itu, justru aku bahagia, sebab tanpa ragu kau mencoba tunjukanku pada semestamu, aku yakin itupun harapanmu terhadapku. Seringkali saat kau melakukan hal konyol yang terlihat alay bahkan seakan-akan membuat iri orang yang melihat kita, tapi hal itu tak jarang pula membuatku selalu menahan senyum tanpa pernah kau ketahui. Kau melengkapi hidupku. Disaat aku yang masih malu-malu, kau tuntunku tuk menjadi berani, saat kamu temukanku dalam keadaan tertutup kau memperbaikiku menjadi pribadi lebih terbuka.

Maafkan aku,  yang kala itu selalu membuatmu selalu protes dan mempermasalahkan sikapku, tapi kuharap kini kamu mau mengerti.

Hey... ini aku telah menjadi peribadi yang kamu damba, yang kau eluh-eluhkan kala itu, tak ada keraguan, rasaku semakin tumbuh dan berkembang, aku tunjukkanmu dalam semestaku seperti harap dulu. Namun, naasnya, kau malah abaikanku dan saat yang bersamaan kau kejutkan aku, dengan sikapmu yang hapuskan aku secara tiba-tiba dalam kehidupanmu, sedang  kita masih merajut benang sama. Apa kau tak pernah sedikit menelik mereka, meraka yang diam-diam menyaksikan kita?  Atau lebih-lebih kau berinisiatif, mencoba  menyelami bagaimana perasaanku kini, bagaimana rasanya jadi aku. Kau tahu ini pahit. apa kau sengaja, dengan tega membuatku menjejali apa yang dulu kau rasa?

Bisa saja aku bersikap seolah-olah tak menyadari semua perubahan ini, mencoba berbaik sangka.  Tapi aku tak bisa menampik bahwa semua semakin jelas dan nyata. Mengapa, mengapa, mengapa?????

Lantas jika kini aku melontarkan pertanyaan yang sama persis seperti dulu kau tanyakan padaku, salahkah? Apakah aku yang terlalu terlambat? Ataukah aku yang terlalu menghabiskan banyak waktu untuk beradaptasi? Katakan

Sabtu, 26 Juli 2014

Silih Berganti (Manusia dan kesoktahuannya)

Silih berganti, itulah siklus kehidupan. Kita tidak bisa memperediksikan kapan tepatnya seseorang yang amat begitu dekat dengan kita diambil oleh-Nya, pergi meninggalkan kita  atau dirampas paksa oleh pihak lain yang tak pernah kita duga sebelumnya. Aku yakin, siapapun tak inginkan semua itu, tetapi sayangnya, kita hanyalah seonggok manusia biasa yang kerdil, tak miliki kapasitas, tak punyai otoritas untuk merubah sedikitpun atas apa yang telah Tuhan kehendaki. Tak jarang, banyak dari  kita berusaha mengelak dari skenario yang Tuhan telah ditatapkan. Ya namanya juga manusia yang biasa, tahu sendiri gimana sih manusia biasa, selalu salah, sering terkecoh dan tak bisa membedakan mana yang takdir dan mana yang nasib, mana yang bisa diubah mana yang tidak.
Menyerah pada nasib, itu yang umum dijumpai, padahal itu masih bisa diubah dengan berusaha. Sedangkan berusaha sekuat tenaga, mengerahkan seluruh kekuatan pada takdir yang jelas-jelas sudah tertulis dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun.
Manusia selalu sok tahu, pun tak pernah bisa menerima keadaan saat ditinggalkan atau kehilangan sesuatu yang dianggapnya berharga, mereka berdalih bahwa jika hanya diam berpangku tangan saat ditinggalkan atau kehilangan maka kesedihan, kegalauan, kesengsaraan yang menghatui harinya, yang alay mereka mensugesti diri mereka sendiri dengan hal-hal konyol yang terlihat alay dan lebay, seperti “Aku tak bisa hidup tanpamu, “tanpamu langit tak berbintang”, dan lalala lainnya. Atas dasar itulah tak sedikit dari terjerumus dalam lebah kesalahan. Mereka selalu memaksa keadaan yang menurut “versinya” nyaman maka manusia akan mecoba membuat hal itu kekal bersamanya.
Manusia terlalu takut menerima perubahan terlebih dari zona aman. Sok, berusaha menciptakan kebahagiaan dengan melawan takdir-Nya, padahal tanpa disadari Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang lebih indah, lebih baik dari apa yang kita miliki saat ini, ini bukan guyonan, ini bukan bualan, bullshit atau untuk menangkan perasaan semata, tapi ini yang telah Tuhan serukan kepada umat-Nya, percayalah! Tidak ada daun yang jatuh melainkan karena-Nya. Tuhan Maha Mengetahui segalanya.
Langkah awal untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik itu membutuhkan kata “ikhlas”  pun karena sesuatu yang lebih baik itu adalah sebuah “misteri” yang hanya Tuhanlah satu-satunya yang mengetahui hal tersebut, banyak dari manusia sulit mengiklaskan sesuatu ataupun hijrah dari zona aman tersebut (pada saat ini mereka rasa), lagi dan lagi alibinya terlalu berisiko untuk mengorbankan zona aman untuk sesuatu yang abu-abu, sesuatu yang belum tentu bisa mendatangkan kebahagiaan dikemudian hari.
Naluri manusia, jika hal yang lebih baik belum ada didepan mata mana mungkin yang dimiliki saat ini dapat direlakan. Nanti saja ketika sudah tergelincir, ketika yang dipertahankannya (memaksa keadaan) tak memberikan kebahagiaan, barulah menyadarinya, dan lagi-lagi dengan improvisasi mereka yang dipoles sedemikian rupa untuk mejauhkan diri merekan judge publik dan membebaskan mereka dari jeratan orang-orang yang sudah memperingatinya sebelum mereka jatuh.
Manusia yang baik itu selalu berlapang atas segala apapun yang terjadi padanya, bukan malah memaksa, menyalahkan Tuhan dengan alasan-alasan lain membuat dirinya seolah-oleh pihak yang paling menderita dan tertindas. Kita hanya butiran debu, bisa jadi saat Tuhan mengambil sesuatu yang berharga yang kita miliki saat ini tidak memberikan kebaikan untuk diri kita dikemudian hari, yakan! c’mon think again.
Mulai sekarang perbaikilah diri, mulai belajar menerima keadaan apapun, ikhlas dan lapang, sesungguhnya sesuatu yang pergi, hilang dari diri kita akan digantikan oleh sesuatu lain yang lebih baik dari apa yang kita miliki saat ini, Allah maha mengetahui segalanya.
Percayalah! “Ketika sesuatu yang lama pergi maka sesuatu yang baru akan datang” Kita hanya perlu sedikit bersabar. “Dan janganlah sekalipun kamu melupakan yang lama, saat sesuatu yang baru itu datang”.

Selasa, 15 Juli 2014

Saat Cinta Tak Butuh Alasan atas Perbedaan


Banyak hal yang tidak bisa terjawab logika

 Saat kita telah tergelincir dalam lautan cinta

 Menepis realita

Meski rentang perbedaan jauh tak terhingga

Aku seonggok manusia, tak sempurna

Jauh  berbeda dari bidadari yang kau damba

Aku hanyalah bintang redup yang tak terlihat

Tak punya daya untuk memikatmu dengan sinarku

Aku hanyalah seorang pencinta

Mencinta dalam khayal semata

Namun kau hadir suguhkan cinta yang nyata

Aku hanya termengu

Mengapa aku yang kau jadikan makhluk yang kau cinta?

Diatara ribuan sosok-sosok indah menyapa

Sadarkah engkau?

Kita terlalu berbeda

Mampukah dikemudian hari kita berjalan beriringan

Bersama membangun kebahagiaan

Diatas semua perbedaan

Menghabiskan setiap detik bersama

Dengan semua keterbatasanku

Satu hal yang menjawab semua pertanyaanku

Dengan sederhana, kau tuturkan

"Aku  hanya mencintaimu

Dan aku tidak butuh alasan untuk itu".

i miss ya

Adakah yang bisa memprediksikan waktu dimana kita mulai merindu. Jelas tak ada yang bisa, sebab rindu itu selalu datang tiba-tiba, membuat empunya tersiksa. Tatkala saat kita dilanda rindu yang bergejolak, saat raga ini saling membutuhkan kehadiran sosok yang amat didamba, menciptakan hasrat untuk bisa saling bertatap muka, atau harapan sempurnanya, saling melontarkan bercanda tawa dan berbagi cerita. Tapi, yah selalu saja ada satu kata “tapi” yang melumpuhkan asa, tak terkecuali kita. Iya, semua angan tak luput dari sebuah pertentangan yang tak dapat terelakkan, diwaktu yang bersamaan kita sama-sama dalam pelukan hangat kesibukan dan dibelai keadaan yang tak memungkinkan. Menyalahkan keadaan? Tak mungkin, kita hanya manusia biasa, tak punyai kuasa dan tak selamanya apa yang diharapkan dapat diwujudkan dengan seketika.

Kamu tahu aku membutuhkan sosokmu sama seperti mereka membutuhkan dirimu. Aku tak meminta seluruh waktumu tuk hadir secara nyata disampingku. Kehadiranmu dalam chat yang telah menjadi rutinitas kita sebagai salah satu pelipur saat jarak yang membentang menjauhkan raga kita, sudah lebih dari cukup tuk mengobati sedikit rindu yang semakin lama semakin menggerogotiku. Namun, kerap kali terselip sebuah harapan, harapan dimana aku benar-benar ingin sosokmu yang nyata hadir dihadapanku. Terlalu naif jika tak inginkan hal itu. Tapi lagi dan lagi aku disadarkan oleh keadaan yang mengingatkanku pada sebuah kenyataan. Kenyataan yang membuatku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya menunggu .... kerap kali semua itu membuat kita rentan, rapuh yang menimbulkan percikan-percikan api pertengkaran diantara kita karena rindu yang selalu memaksa agar bisa saling bersama.  Cenderung kekanakan saat ego mulai di kedepankan, membuat keadaan seakan-akan adalah pihak yang paling tersiksa oleh keadaan. Aku taku tahu pertengkaran kita bukan karena benci tapi dorongan atas rasa yang tak bisa ditahan lagi, seorang diri

Sayang...

Kau tahu kecewa? Kau mengenalnya? Atau bahkan kamu pernah merasakannya? Naif jika kau tak pernah mengenal dan merasakannya. Tak jarang saat aku membutuhkanmu, kau tak ada, sibuk dengan aktivitasmu ataupun keadaan yang tiada hentinya berusaha menghalangi kita. Tahukah apa yang kurasa? Aku yakin pasti kamu mengetahuinya, iya kan?

Sayang...

Kamu tahu, meski 1001 perhatian yang kau suguhkan dalam pesan-pesan yang sering kamu berikan dalam chat, jujur tak sebanding saat kita menghabiskan waktu bersama. Aku yakin kamu pasti setuju. Tak ada yang salah semua ini mengajari kita arti dari sebuah kesabaran, setia, menerima, bertahan dan kuat.

Sayang...

Aku mengerti kita berbeda. Duniaku dan duniamu tak sama. Pun kesibukan jauh berbeda. Kau penuh pendewasaan sedang aku penuh adaptasi. Kita hanya miliki satu kesamaan, yaitu saling mencintai, sebab itulah kita perlu menyatukan setiap perbedaan demi hubungan yang kita bina.

Sejujurnya kuuingin marah, mengabaikanmu, tapi ada keinginan lain yang tersemat, tak dapat kusampaikan melalui bibirku ini, sungguh aku ingin kau memaksaku agar aku berada dalam pelukan erat tubuhmu hingga aku merasa tenang dan luluh dalam hangatnya dekapanmu. Abaikan tetsan air mata ini jatuh lalu aku berjanji tuk tak menangis lagi untuk menanti saat dimana kita bertemu kembali.

Sering kali aku dilontari oleh beberapa pertanyaan. Mengapa kala itu, saat keadaan tampak begitu ramah, segalanya tampak begitu mudah justru kecanggungan yang tercipta, kini ketika kita sudah terlanjur akrab, menjadi satu justru semua tampak sulit, keadaan selalu memprotes kebersamaan kita.

Selasa, 22 April 2014

*Sajak "Kau harus tahu"

Kau harus tahu,
langit dan bumi tidak pernah menyatu,
tapi ketika hujan, mereka bisa bersatu erat saling
bercengkerama begitu indah, atas setiap tetesnya.
Amat mesra saling menyapa.
Kau harus tahu,
lautan dan matahari tidak pernah menyatu.
tapi ketika sunset, matahari tenggelam di kaki langit sana,
maka garis horizon laut memeluk erat sang matahari.
Untuk besok berjanji kembali akan bersua
Di sini, di tempat yg sama, di waktu terjanjikan
Kau harus tahu,
bulan dan permukaan kolam jauh saja letaknya
tapi saat purnama, tataplah permukaan kolam yang tenang
maka bulan persis berada di dalam relung hatinya
Memantulkan bayangan begitu anggun
kebersamaan singkat yang begitu mempesona
Maka,apalagi kita?
Manusia yang tinggal di tanah yg sama
Kita tidak dipisahkan bagai langit dan bumi
Kisah cinta kita bisa begitu spesial
Di tangan orang2 yang bersabar dan senantiasa tahu
batasnya.
Sungguh percayalah

Repost *Tere Liye

Senin, 21 April 2014

Sepenggal Catatan Sang Pencinta

Apabila dahulu aku menyukainya seorang diri berusaha memberikan kebahagiaan meski dia tak pernah menoleh tetapi  aku bahagia dengan rasa itu, semua itu karena-Mu.
Jika kini Engkau hadiahkan dia untuk bersamaku, lebih dari kata bahagia yang terucap dari bibirku, itu adalah Anugrah-Mu.
Dan jika suatu hari nanti aku harus ikhlaskan dia tak lagi bersamaku. Aku seharusnya tetap bahagia karenanya. Dan aku yakin itu adalah rancana terbaik-Mu.
Cinta bukan bagaimana cara-cara untuk memiliki dia, cinta itu tulus.
Cinta bukan permasalahan bagaimana dia mengubah statusmu, cinta itu ikhlas memberi.
Cinta bukan bagaimana memaksakan dia untuk tetap tinggal, cinta itu tanpa syarat.
Cinta bukan kebencian saat ditinggalkan, cinta akan tetap memberikan kebahagiaan meski ditinggalkan.

Kamis, 17 April 2014

All i want

Mungkin inginku terlalu sederhana
Aku hanya ingin mendengar kamu
Mengetuk didepan pintu
Aku hanya ingin sekali lagi
Melihat wajahmu, meski hanya dari
Balik jendela
Aku cuma mau kamu
Sosok yang nyata ketika aku membuka pintu
Aku hanya ingin didepan tungku perapian
Bersama ketika dingin menerpa
Bisa saja mauku terlalu sempurna
Menjadi orang yang kau pilih
Diantara sempurnanya sosok-sosok yang ada
Menjadi orang yang kau pilih
Untuk kau ambil hatinya
Kemudian kau jaga
Menjadi makhluk yang kau mau
Untuk berbagi hidup selamanya
Menjadi orang yang kau pilih
Dan menjadi orang yang paling beruntung
Di dunia
Namjn kenyataan terlalu berbeda
Kamu mengisyaratkan selamat tinggal
Terlalu dini
Ada sedikit mati kurasakan disini
Hatiku sudah terlanjur
Kau bawa pergi,
Semuanya sebelum aku berhasil ungkapkan aku ingin dimiliki
Dan kini, semua sudah terlalu jelas
Ternyata aku hanya seorang aneh yang merindu pelangi senja
Seonggok tak sempurna yang mendamba dewi fortuna
Setitik hitam yang inginkan kilau cahaya
Sadar diri, mungkin aku harus pergi


-Dara prayoga-

Minggu, 13 April 2014

Alasan kenapa kamu harus “tidak mempermasalahkan masa lalu (gebetan/pacar).

Bagaimana aku bisa melantangkan suaraku untuk mengatakan dua kata kejujuran yang benar-benar mewakilkan perasaanku “aku cemburu!” namun jika diawal saja kamu tak beri pilihan padaku, belum sempat membuka mulutku lihatlah kamu, dengan percaya diri menggembor-gemborkan jargon yang kamu miliki, aaa.. iya aku semakin terpojok, membatin dan bergelut dengan perasaanku sendiri. Jitu! Dan kamu selalu buatku skak mat dengan kalimat andalanmu “we’re friendship, since we were in junior high school”. Dengan mengindahkan bahwa pernah ada sesuatu yang spesial diatara salah satu dari kalian.
Aku punya dua pandangan berbeda untuk kasus seperti ini.