Saat itu menjadi
saat yang indah dalam hidupku, semua terasa lebih berwarna, hari yang biasanya
berjalan 1x24 jam terasa lebih cepat saat aku berada disampingmu dan berjalan
begitu lambat saat kamu jauh disisiku.
Tak pernah terbesit dalam benakku sebelumnya jika kamu bersanding
denganku, kala itu. Dengan berbagai jalan kamu lakukan untuk menggerakkan
hatiku padamu, mengambil perhatianku dan semua itu berbuah manis kamu dan aku
akhirnya menjadi kita. Saat kamu
tersenyum dan tertawa kamu begitu polos, canda dan guratan senyum yang
terbentuk dari salur-salur wajahmu terlihat setiap kali kamu bersamaku, bola mata yang indah dari matamu selalu
buatku terhipnotis, diam dan melihat dalam-dalam itulah yang kulakukan. Aku
bahagia bisa bersamamu, disampingnya, selalu didekatmu, kala itu. Aku tak ingin
semua itu berakhir begitu saja.
Tetapi
kebahagiaan yang tercipta, perpaduan antara kamu dan aku hilang seketika
saat sesorang datang. Sosok yang indah, santun yang kamu sembunyikan dariku dengan lirih tak ingin kamu sakiti aku. Tetapi lihat buah dari tindakanmu yang salah membuatku dua kali lipat merasakan sakit. Aku tak bisa menyalahkan kamu maupun dia, semua itu terjadi sebelum aku mengenal kamu, memang.
Tapi mengapa tak sedikitpun kamu katakan jika kamu telah ditentukan dengan seorang perempuan atas perjajian kedua orangtuamu. Aku bisa apa, kala itu. Perih, membludak, perasaanku merorong-rong. Apakah aku harus meninggalkanmu demi kamu, dia dan orangtuamu? Haruskan aku menyerah pada kenyataan dan keadaan? Tapi rasaku padanya begitu kuat. Tak bisakah kamu bertanggung jawab atas rasaku ini yang terlah mengakar untukmu?
saat sesorang datang. Sosok yang indah, santun yang kamu sembunyikan dariku dengan lirih tak ingin kamu sakiti aku. Tetapi lihat buah dari tindakanmu yang salah membuatku dua kali lipat merasakan sakit. Aku tak bisa menyalahkan kamu maupun dia, semua itu terjadi sebelum aku mengenal kamu, memang.
Tapi mengapa tak sedikitpun kamu katakan jika kamu telah ditentukan dengan seorang perempuan atas perjajian kedua orangtuamu. Aku bisa apa, kala itu. Perih, membludak, perasaanku merorong-rong. Apakah aku harus meninggalkanmu demi kamu, dia dan orangtuamu? Haruskan aku menyerah pada kenyataan dan keadaan? Tapi rasaku padanya begitu kuat. Tak bisakah kamu bertanggung jawab atas rasaku ini yang terlah mengakar untukmu?
Aku tahu kamu
tak menghendaki ini, begitu pun aku. Aku tak kuasa bahwa kenyataannya seperti
ini. Tak bisa aku hapuskan kamu, tiga tahun bersamamu menjalin hari-hari penuh
dengan suka dan duka banyak sketsa yang kita buat, mungkinkan semua itu
terhapuskan begitu saja? Semua terjadi kala itu.
Beberapa tahun selepas aku
pergi, ya lebih tepatnya terpaksa pergi dari hidupmu untuk kebahagiaanmu. Aku
sudah melupakanmu? Tanya dua kali hatiku.
Hal yang kurindukan darimu, kala
itu. Tangan ke tangan, wajah bertemu wajah, dekapan hangatmu, rangkulanmu,
usapan tanganmu di kepalaku diiringi dengan senyummu, itu semua aku rindukan,
apakah kamu ingat dulu kita sedekat itu?
:)
BalasHapus